Banyumas -
Ribuan warga memadati Grebeg Sura di Baturraden untuk menyaksikan perebutan gunungan hasil bumi setinggi lima meter. Dalam hitungan menit, gunungan tersebut ludes diserbu warga yang berebut membawa pulang hasil bumi sebagai simbol berkah.
Pantauan detikJateng, warga sudah memadati area jalan yang akan dilewati arak-arakan pada Minggu (12/6/2026), sejak pukul 08.00 WIB. Gunungan setinggi kurang lebih 5 meter diarak dari wana wisata sejauh 1 km.
Saat memasuki area lokawisata rangkaian prosesi kemudian dimulai. Sebelum gunungan diperebutkan rombongan terlebih dahulu berziarah ke area petilasan bawah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu, sesaji yang dibawa kemudian dilarung di Sungai Gumiwang di dalam area loka wisata. Sesaat kemudian, usai digelar doa kemudian masyarakat langsung berebut gunungan hasil bumi.
Tak butuh waktu lama, kurang dari 5 menit gunungan yang berisi gabah dan berbagai macam sayuran langsung ludes. Ada juga masyarakat yang nekat untuk menaiki gunungan. Ada juga yang terlihat jatuh hingga terinjak. Meski begitu masyarakat tetap nampak bahagia usai berhasil mendapatkan hasil bumi.
Antusiasme masyarakat terlihat saat prosesi perebutan gunungan hasil bumi. Salah seorang wargaKemutug Lor, KecamatanBaturraden,Utami, mengaku baru pertama kali mengikuti tradisi tersebut.
Sejumlah warga berebut gunungan hasil bumi saat puncak Grebeg Sura di kawasan lokawisata Baturraden, Kabupaten Banyumas, Minggu (12/7/2026). (Anang Firmansyah/detikJateng)
"Seru tadi rebutan gunungannya. Saya dapat kacang panjang, pare sama daun bawang. Nanti mau dimasak. Ini baru pertama kali datang ke acara Grebeg Sura," kata Utami.
Pernyataan serupa disampaikan Praptini, warga Desa Pabuwaran. Meski harus berdesakan saat berebut hasil bumi, ia mengaku senang karena percaya gunungan membawa berkah.
"Ini nanti buat dimasak. Tadi sempat terinjak-injak waktu rebutan gunungan, tapi tidak apa-apa. Demi dapat hasil bumi ini, ngalap berkah," ujar Praptini.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyumas Junaidi mengatakan festival tersebut menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Lokawisata Baturraden. Semakin banyak wisatawan yang datang, maka dampaknya akan dirasakan langsung oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.
Selain memberikan dampak ekonomi, Junaidi menyebut festival tersebut juga menjadi wadah pelestarian seni budaya Banyumas. Berbagai kesenian seperti tari lengger hingga barongsai ditampilkan sebagai hiburan bagi masyarakat sekaligus menjaga agar budaya lokal tetap lestari.
"Ini adalah seni budaya yang harus terus diuri-uri. Tugas pemerintah memberikan fasilitasi agar seni budaya yang berkembang di Banyumas tetap hidup dan dilestarikan," ujar dia.
Junaidi mengatakan Grebeg Sura juga menjadi momentum mempererat kebersamaan masyarakat. Seluruh desa di sekitar Baturraden ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan acara, termasuk menyiapkan gunungan hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen.
"Ini bentuk gotong royong bersama. Gunungan menjadi simbol rasa syukur kepada Allah atas hasil bumi yang dihasilkan masyarakat sekitar Baturraden. Harapannya masyarakat semakin guyub, rukun, bersinergi dan berkolaborasi mengembangkan pariwisata," kata dia.
(fem/fem)