Merawat Indonesia bebas polio - ANTARA News Megapolitan

calendar_today 24.10.2026 - person  - timer ~

Jakarta (ANTARA) - Setiap 24 Oktober, Hari Polio Sedunia mengingatkan bahwa kemenangan dalam kesehatan masyarakat harus terus dirawat.

Berakhirnya wabah merupakan pencapaian besar, tetapi perlindungan anak bergantung pada pekerjaan sehari-hari: imunisasi lengkap, penemuan kasus, dan layanan yang menjangkau keluarga paling sulit diakses.

Bagi Indonesia, pesan itu nyata. Pada 19 November 2025, WHO menyatakan kejadian luar biasa polio tipe 2 di Indonesia berakhir. Keberhasilan tersebut layak diapresiasi sekaligus diteruskan menjadi pemerataan perlindungan. Ukurannya bukan hanya angka nasional, melainkan kepastian bahwa setiap anak memperoleh imunisasi dan setiap penyintas mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

Ketika inisiatif eradikasi global diluncurkan pada 1988, diperkirakan sekitar 350.000 kasus polio terjadi di lebih dari 125 negara endemik. Sejak itu, kasus akibat poliovirus liar turun lebih dari 99 persen.

Vaksin inaktif Jonas Salk, yang mulai digunakan pada 1955, dan vaksin oral Albert Sabin pada awal 1960-an mengubah perjalanan penyakit ini.

Pengembangan penggunaan vaksin Sabin juga melibatkan peneliti Uni Soviet. Kolaborasi pada masa Perang Dingin memperlihatkan bahwa kerja sama kesehatan dapat bertahan di tengah ketegangan politi, selama tersedia kepercayaan dan komitmen institusional.

Poliovirus masuk melalui mulut dan berkembang biak di tenggorokan serta saluran cerna. Banyak infeksi tidak menunjukkan gejala, sehingga penularan dapat berlangsung tanpa dikenali. Pada sebagian kecil infeksi, kerusakan sistem saraf menyebabkan kelumpuhan.

Terdapat tiga serotipe poliovirus. Eradikasi global poliovirus liar tipe 2 disertifikasi pada 2015 dan tipe 3 pada 2019. Namun, pencapaian itu tidak berarti seluruh virus dari kedua tipe tersebut lenyap, sebab virus turunan vaksin masih dapat menimbulkan wabah.

Afghanistan dan Pakistan masih disebut memiliki transmisi endemik poliovirus liar tipe 1 dalam pernyataan WHO pada Agustus 2026.

Karena itu, penutupan wabah, sertifikasi bebas poliovirus liar, dan eradikasi global harus dibedakan. Wabah yang berakhir tidak membenarkan penghentian kewaspadaan. Air bersih, sanitasi, imunisasi, dan surveilans tetap diperlukan.
 

Memahami pilihan vaksin

Vaksin polio inaktif atau IPV membentuk antibodi dalam darah dan terutama melindungi terhadap kelumpuhan. Karena tidak mengandung virus hidup, IPV tidak menyebabkan poliomielitis paralitik terkait vaksin. Namun, perlindungan terhadap kelumpuhan tidak sama dengan pencegahan sempurna terhadap infeksi dan penularan melalui usus.

Vaksin polio oral atau OPV menggunakan virus yang dilemahkan dan membentuk kekebalan mukosa usus, sehingga penting untuk memutus penularan.

Apabila virus vaksin terus bersirkulasi dalam populasi berkekebalan rendah, perubahan genetik dapat mengembalikan kemampuannya menyebabkan penyakit. Dengan bukti penularan di masyarakat, virus ini disebut circulating vaccine-derived poliovirus atau cVDPV.

Keadaan tersebut berbeda dari kelumpuhan terkait vaksin yang sangat jarang maupun pengeluaran virus berkepanjangan pada sebagian orang dengan imunodefisiensi primer. Pesan komunikasinya harus jelas: pemerataan kekebalan masyarakat merupakan kebutuhan mendasar.

Untuk respons wabah tipe 2, nOPV2 dirancang lebih stabil secara genetik daripada vaksin Sabin tipe 2 sebelumnya. Risiko kemunculan virus turunan vaksin berkurang, tetapi tidak menjadi nol.

Pilihan vaksin harus mengikuti keadaan epidemiologis. Vaksin heksavalen mengandung IPV, sehingga pengenalannya tidak otomatis menggantikan seluruh kebutuhan vaksin oral.
 

Pekerjaan Indonesia setelah wabah

Wabah di Aceh yang dilaporkan pada November 2022 berkaitan dengan cVDPV2. Respons berkembang dari imunisasi tambahan di wilayah terdampak dan berisiko hingga Pekan Imunisasi Nasional pada 2024.

Menurut pengumuman WHO pada November 2025, hampir 60 juta dosis tambahan diberikan selama respons. Angka itu menunjukkan jumlah dosis, bukan jumlah anak yang berbeda.

Keberhasilan tersebut melibatkan Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, masyarakat, WHO, UNICEF, dan mitra lainnya. Prosesnya tidak tanpa kekurangan.

Penilaian respons wabah pada Desember 2024 masih menemukan kesenjangan surveilans, kecukupan spesimen, dan kekebalan antarwilayah. Pembenahan serta penilaian lanjutan pada 2025 mendahului keputusan penutupan.

Cakupan dosis kedua IPV meningkat dari 63 persen pada 2023 menjadi 73 persen pada 2024, atau naik 10 poin persentase. Kemajuan ini perlu diteruskan dengan menelusuri anak yang belum memperoleh dosis sesuai usia.

Pengenalan awal vaksin heksavalen pada Oktober 2025 juga membutuhkan ketersediaan vaksin, pencatatan yang baik, dan tindak lanjut keterlambatan imunisasi.

Pertanyaan terpenting berada di tingkat puskesmas dan desa: keluarga mana yang belum terjangkau, apakah jadwal layanan sesuai kebutuhan mereka, dan apakah petugas memiliki dukungan transportasi? Jawabannya menentukan apakah keberhasilan kampanye menjadi perlindungan sehari-hari.

Belajar dari dunia

Amerika Serikat mencatat kasus terakhir polio liar yang diperoleh di dalam negeri pada 1979, tetapi kasus akibat cVDPV2 ditemukan di New York pada 2022. Tiongkok menghentikan kasus polio liar indigenous pada 1994, kemudian menghadapi introduksi virus pada 2011.

Keduanya mengingatkan bahwa keberhasilan nasional dapat menyisakan kelompok rentan dan risiko impor virus.

Jepang mengganti OPV dengan IPV dalam imunisasi rutin pada 2012, menunjukkan pentingnya penyesuaian teknologi terhadap risiko.

Kontribusi ilmiah Uni Soviet perlu dibedakan dari pengalaman Federasi Rusia, yang melaporkan 14 kasus dalam konteks penyebaran lintas negara pada 2010. Capaian historis tidak menghapus kebutuhan perlindungan berkelanjutan.

Di Jerman, poliovirus liar tipe 1 ditemukan dalam sampel air limbah Hamburg yang dikumpulkan pada Oktober 2025. Temuan lingkungan bukan kasus kelumpuhan, tetapi dapat memberi peringatan dini.

Koordinasi penilaian risiko di Uni Eropa memperlihatkan manfaat pertukaran informasi, meskipun negara anggotanya memiliki program imunisasi masing-masing.

Kawasan Afrika WHO disertifikasi bebas poliovirus liar indigenous pada 2020. Wabah akibat impor virus dan persoalan cVDPV kemudian menegaskan perlunya respons lintas batas.

Australia memberi pelajaran lain: pelayanan harus mengikuti geografi, sebagaimana dukungan Royal Flying Doctor Service dalam distribusi vaksin sejak 1956. Indonesia perlu mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan kepulauannya.

Geopolitik juga menjangkau laboratorium. WHO mencatat gangguan pengiriman spesimen akibat penutupan perbatasan Afghanistan–Pakistan sejak Oktober 2025.

Sementara itu, deteksi cVDPV2 di Papua Nugini pada 2025 dikaitkan secara genetik dengan transmisi di Indonesia pada 2024. Temuan tersebut mendukung penyelidikan dan kerja sama, bukan alasan menyalahkan penduduk atau menganggap seluruh jalur perpindahan telah diketahui.
 

Penyintas dan batas inovasi

Kerusakan neuron motorik akibat polio dapat mengganggu gerakan, menelan, dan pernapasan. Pemulihan sebagian fungsi melalui penyesuaian unit motorik yang bertahan berbeda dari penggantian neuron yang telah mati. Rehabilitasi membantu mengoptimalkan kemampuan tanpa menjanjikan regenerasi sempurna.

Sebagian penyintas mengalami sindrom pascapolio bertahun-tahun kemudian, berupa kelemahan baru, kelelahan, atau nyeri. Kondisi ini bukan infeksi menular baru dan memerlukan penilaian untuk menyingkirkan penyebab lain.

Latihan perlu disesuaikan dengan kemampuan individu, disertai pengelolaan kelelahan, alat bantu, serta dukungan pernapasan bila diperlukan. Akses pendidikan, pekerjaan, dan lingkungan yang mudah dijangkau juga bagian dari pemulihan martabat.

Inovasi tetap penting, tetapi tingkat buktinya harus jelas. Penelitian partikel mirip virus polio yang distabilkan, terbit pada 2025, mendukung pengembangan kandidat vaksin melalui pengujian praklinis, termasuk pada tikus.

Hasil tersebut belum membuktikan efektivitas pada manusia. Stabilitas termal yang lebih baik pun tidak otomatis menghapus kebutuhan rantai dingin.

Demikian pula, eksplorasi herbal dan sel punca tidak membuktikan bahwa keduanya dapat menyembuhkan polio atau memulihkan seluruh neuron yang rusak. AI dapat diuji untuk membantu pemetaan prioritas dan pengelolaan data surveilans, tetapi manfaat lapangannya perlu dibuktikan. Data yang tidak mewakili wilayah terpencil dapat mengarahkan keputusan secara keliru.
 

Menjaga perlindungan setiap hari

Indonesia perlu melindungi anggaran imunisasi rutin dan surveilans setelah kampanye berakhir. Puskesmas harus didukung menyediakan imunisasi kejar, sementara komunikasi bersama tokoh masyarakat menjawab kekhawatiran keluarga tanpa mempermalukan mereka.

Kewaspadaan terhadap lumpuh layuh akut harus dipertahankan melalui pelaporan tepat waktu, spesimen yang memadai, pemeriksaan laboratorium, dan tindak lanjut. Tidak ditemukannya kasus baru hanya bermakna jika pencariannya dapat dipercaya. Layanan rehabilitasi bagi penyintas juga perlu masuk dalam perencanaan dan evaluasi program.

Pada Hari Polio Sedunia, penghargaan terbaik atas kemajuan Indonesia ialah memastikan layanan tetap hadir ketika perhatian publik mereda.

Dunia bebas polio dibangun oleh pekerjaan yang sering luput dari berita: petugas yang kembali mengunjungi keluarga, spesimen yang tiba tepat waktu, dan anak yang akhirnya memperoleh perlindungan.
 

*) Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D. adalah alumnus PhD IPCTRM Taipei Medical University, dokter riset, dosen, peneliti, penulis, kolumnis, reviewer jurnal internasional, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, founder ILI, dan pelopor NiBTM.

Pewarta: dr Dito Anurogo PhD *)
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.