Menyuarakan Keresahan Rakyat Seperti Aksi Greenpeace: Bagaimana Batasan dan Adab Menyampaikan Kritik dalam Islam?

calendar_today 21.10.2026 - person  - timer ~

Lufaefi

| 21 Oktober 2026, 11:30 WIB

Menyuarakan Keresahan Rakyat Seperti Aksi Greenpeace: Bagaimana Batasan dan Adab Menyampaikan Kritik dalam Islam?

Spanduk yang dibentangkan Greenpeace Indonesia di Patung Selamat Datang Bundaran HI, Jakarta Pusat. (greenpeace.org)

AKURAT.CO Ketika masyarakat merasa ada persoalan yang mengancam lingkungan, kesehatan, atau kepentingan publik, menyampaikan kritik menjadi salah satu cara untuk meminta perubahan. Aksi-aksi advokasi lingkungan seperti yang dilakukan Greenpeace menunjukkan bahwa keresahan terhadap kebijakan publik dapat dibawa ke ruang terbuka melalui kampanye, aksi massa, maupun berbagai bentuk komunikasi kepada pemerintah dan masyarakat.

Dalam perspektif Islam, menyampaikan kritik pada dasarnya bukan sesuatu yang terlarang. Bahkan, mengingatkan penguasa atau pihak yang memiliki kewenangan ketika terjadi persoalan dapat menjadi bagian dari amar makruf nahi mungkar. Namun, Islam juga memberikan batasan. Kritik tidak boleh berubah menjadi fitnah, penghinaan, kebencian, atau tindakan yang justru menimbulkan kerusakan baru.

Al-Qur'an mengajarkan pentingnya menyampaikan perkataan dengan cara yang baik. Allah SWT berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa substansi kritik dan cara menyampaikannya tidak dapat dipisahkan. Kritik boleh keras dalam menyuarakan persoalan, tetapi tetap harus memiliki dasar dan disampaikan secara bermartabat.

Baca Juga: Demo Karhutla Bubar, Mahasiswa Tinggalkan Tugu Tani

Dalam konteks kehidupan bernegara, masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi. Ketika terdapat kebijakan yang dinilai merugikan lingkungan atau kelompok tertentu, kritik dapat menjadi mekanisme kontrol sosial. Dalam Islam, keberanian menyampaikan kebenaran juga memiliki nilai penting.

Rasulullah SAW bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan perkataan yang adil di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

Pesan hadis tersebut bukan berarti setiap kritik harus dilakukan dengan cara konfrontatif. Justru terdapat kata kunci yang penting, yakni “perkataan yang adil”. Artinya, kritik harus berpijak pada kebenaran, bukan sekadar kemarahan.

Karena itu, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan ketika menyampaikan kritik.

Halaman:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi

Lufaefi

Puan Soroti Lonjakan DBD, Pencegahan hingga Tingkat RT Harus Diperkuat

Susunan Upacara Hari Santri Nasional 2026 Lengkap, Cek 17 Urutan Acaranya!

Apa Itu Greenpeace? Ini Sejarah, Tujuan, dan Kegiatannya

Jadwal Prancis Terbuka Hari Ini: 6 Wakil Indonesia Berjuang Berburu Tiket 16 Besar

Apa Itu HSC dalam Saham? Kenali Pengertian, Risiko, dan Dampaknya bagi Investor