Menyiarkan kabar dari pedalaman Mentawai

calendar_today 16.10.2026 - person  - timer ~

Padang (ANTARA) - Di balik kerapatan hutan hujan tropis Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, masyarakat Desa Matotonan di Siberut Selatan menolak untuk terisolasi dari dunia luar.

Sebagai salah satu desa terdalam di jantung Mentawai, Matotonan sempat lama terkurung dalam sunyi tanpa sinyal komunikasi. Namun, keterbatasan geografis itu kini perlahan terkikis berkat kehadiran infrastruktur telekomunikasi dari BAKTI Komdigi serta inisiatif pemanfaatan teknologi internet satelit Starlink yang disediakan secara swadaya untuk masyarakat.

Kehadiran jaringan ini menjadi jembatan digital yang menghubungkan kearifan lokal dengan panggung global.

Saat itu, 4 Juli 2025 sedang digelar ritual dalam rangka Punen Eeruk, sebuah pesta adat besar atau upacara yang diadakan oleh masyarakat Mentawai, khususnya di pedalaman Siberut, untuk menghormati dan mengakhiri masa berkabung anggota keluarga yang meninggal dunia.

Paulus menggunakan gawainya membuat konten bersama anak-anak di Desa Matotonan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. (Antara/Fitra Yogi)

Tentunya pesta ini melibatkan sejumlah Sikerei, tabib Mentawai yang memimpin berbagai ritual adat.

Punen Eeruk juga merupakan bagian dari kepercayaan Arat Sabulungan, yakni kepercayaan tradisional masyarakat Mentawai yang meyakini bahwa roh dan arwah menghuni seluruh alam, termasuk tumbuhan, hewan, tanah, dan benda-benda.

Paulus Sabbagalet adalah salah seorang anggota keluarga yang berduka karena ayahnya meninggal. Selain menyiapkan acara dan memastikan pelaksanaan berjalan lancar, Paulus juga bertugas mengabadikan pelaksanaan pesta ada tersebut agar bisa diketahui orang banyak.

Seorang warga memanfaatkan sinyal dari Bakti Komdigi di Balai Desa Matotonan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. (Antara/Fitra Yogi)

Sebagai putra Mentawai, Paulus merasa bertanggungjawab untuk memperkenalkan adat tradisi kampung halamannya ke dunia. Karena itu ia rajin menggunggah konten-konten video budaya di akun sosial medianya.

Seperti masyarakat Matotonan, Paulus kini dapat mengakses informasi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara inklusif. Sinyal dari BAKTI Komdigi bukan sekadar pemancar gelombang, melainkan pengikat silaturahmi yang memotong waktu perjalanan berjam-jam menyusuri sungai hanya untuk mengirimkan sebaris kabar tentang kebahagiaan.

Keterbatasan kuota dan akses internet berbayar yang disewakan tidak menyurutkan semangat warga untuk mendokumentasikan serta membagikan aktivitas sehari-hari mereka ke ruang digital.

Paulus (kanan) sambil merekam menggunakan gawainya, menahan seorang Sikerei yang terjatuh saat digelarnya tari Turuk Laggai, dalam rangkaian prosesi Punen Eeruk untuk mengakhiri masa berkabung anggota keluarga yang meninggal dunia di Desa Matotonan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. (Antara/Fitra Yogi)

Melalui gawai di tangan, mereka bergerak berdaya mengabadikan dan melestarikan berbagai ritual kebudayaan. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi internet satelit, masyarakat Desa Matotonan membuktikan bahwa modernisasi tidak harus menggerus tradisi.

Di bawah naungan sinyal di pedalaman Siberut, kebudayaan Mentawai tetap terjaga kelestariannya, tumbuh secara mandiri, dan membuktikan bahwa batas geografis bukan lagi penghalang untuk menjadi masyarakat yang berdaya.

Seorang guru memanfaatkan sinyal dari Bakti Komdigi untuk mengirim surat elektronik di Desa Matotonan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. (Antara/Fitra Yogi)
Seorang pegawai memanfaatkan sinyal dari Bakti Komdigi di Kantor Desa Matotonan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. (Antara/Fitra Yogi)
Seorang anggota keluarga memperlihatkan video kepada para istri Sikerei, dalam rangkaian prosesi Punen Eeruk untuk mengakhiri masa berkabung anggota keluarga yang meninggal dunia di Desa Matotonan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. (Antara/Fitra Yogi)
Paulus (ketiga kanan) merekam menggunakan gawainya, prosesi para istri Sikerei naik ke rumah dalam rangkaian prosesi Punen Eeruk untuk mengakhiri masa berkabung anggota keluarga yang meninggal dunia di Desa Matotonan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. (Antara/Fitra Yogi)