Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaimam kembali mengungkap dugaan praktik penjualan beras fortifikasi tak sesuai standar. Bahkan, dari temuan ada beras fortifikasi yang dijual dengan harga yang tidak wajar.
"Ini kelihatan ada yang memainkan lagi perberasan Indonesia, melakukan pergeseran dari beras premium ke fortifikasi," kata Amran ditemui awak media di kediamannya, di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Dia menerangkan, beras fortifikasi diperuntukkan bagi konsumen kelas menengah ke bawah, sehingga lazimnya dijual dengan harga yang cukup terjangkau.
"Logikanya, harusnya harganya murah, benar enggak?. Minimal itu sama dengan beras medium atau naik sedikit enggak apa-apa karena ada vitamin di dalamnya," beber dia.
Amran juga menemukan harga jual beras fortifikasi yang tak sesuai mutu itu jauh dari harga wajar. Ada beras yang dijual dengan harga Rp 42.000 per kilogram. "Average-nya harganya itu Rp 22.665 per kilo, ada yang Rp 42.000, dan ini tidak masuk akal," tambah dia
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini mengaku telah mengambil contoh atau sampel dari 15 merek beras fortifikasi di berbagai daerah. Setelah dicek 13 merek ditemukan tidak menjual beras fortifikasi sesuai standar mutu yang ditentukan.
"Sekarang kami gunakan lab banyak seperti dulu, mungkin sampai 5 sampai 10 lab kita gunakan. Ini sudah ada 3 lab keluar hasilnya, itu 80% bukan beras fortifikasi atau tidak sesuai standar. Tentu ini kita tindaklanjuti dan proses," jelas dia.
Informasi, beras fortifikasi diatur dalam dua standar, yaitu SNI 9314:2024 untuk kernel beras fortifikan dan SNI 9372:2025 untuk beras fortifikasi. Setiap 100 gram beras fortifikasi wajib mengandung vitamin B1 minimal 0,25 miligram, asam folat 0,25 hingga 0,38 miligram.
Kemudian, vitamin B12 1,0 hingga 1,5 mikrogram, zat besi 3,50 hingga 5,25 miligram, dan seng 3,0 hingga 4,5 miligram, dengan rasio pencampuran kernel fortifikan terhadap beras sosoh minimal 1 persen.