Senin, 21 September 2026 - 11:51 WIB
Jakarta, VIVA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memimpin rapat persiapan program bioetanol sejak pukul 06.00 WIB, Senin, 21 September 2026. Rapat yang diikuti 44 bupati dari berbagai daerah tersebut turut dihadiri Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi melalui konferensi video. Prasetyo menyebut rapat ini sebagai rapat paling pagi yang pernah diikutinya selama dua tahun menjabat.
Baca Juga
“Terima kasih, Pak Mentan Amran, kami diizinkan bergabung. Ini sejarah bagi saya, rapat paling pagi yang saya ikuti selama dua tahun,” kata Prasetyo.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Prasetyo mengatakan bahwa selama ini ia memantau pola kerja Kementerian Pertanian (Kementan) yang menurutnya berbeda dari ritme kerja biasa. Hal tersebut, kata dia, tidak terlepas dari besarnya tugas dan tanggung jawab Kementan dalam menjaga pangan nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga
“Kami monitor cara bekerja di Kementan, bukan cara kerja biasa karena tugas dan tanggung jawab luar biasa sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga pangan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Mentan Amran mengatakan bahwa rapat pada pagi buta bukan sesuatu yang asing bagi jajaran Kementan. Ritme kerja tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan berbagai agenda strategis pertanian berjalan cepat.
Baca Juga
“Ini kami minta maaf karena undang rapat pagi-pagi. Maaf, kami terbiasa rapat dari dini hari bahkan tidak ada tanggal merah untuk Kementan,” ucapnya.
Dalam pertemuan bersama 44 bupati dari berbagai provinsi, Mentan Amran menjelaskan bahwa pemerintah mulai mengarahkan perhatian pada pengembangan bioetanol setelah capaian swasembada pangan dan penguatan biodiesel.
“Pangan selesai, sudah delapan komoditas kita swasembada, bahkan ekspor. Biodiesel selesai, tidak impor. Sekarang kita masuk ke bioetanol E20,” jelas Mentan Amran.
Menurutnya, pengembangan bioetanol menjadi bagian dari langkah menuju kemandirian energi nasional. Indonesia memiliki sejumlah sumber bahan baku potensial, antara lain tebu, singkong, dan jagung, yang pengembangannya akan disesuaikan dengan kondisi agroklimat dan keunggulan masing-masing daerah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Bapak Ibu Bupati nanti disesuaikan. Kita cocok tanam berdasarkan agroklimat, keunggulan komparatif, budaya setempat,” ujarnya.
Mentan Amran mengatakan tebu menjadi salah satu komoditas yang akan mendapat perhatian dalam program tersebut. Belajar dari Brasil, selain menghasilkan etanol, tebu juga dapat diarahkan untuk produksi gula sesuai kondisi harga dan kebutuhan pasar.
Halaman Selanjutnya
“Seperti Brasil. Kalau harga tinggi jadikan gula, kalau rendah jual etanol. Ini semua kita ada sumber daya alamnya. Persoalannya mau tanam atau tidak,” katanya.