Jakarta, CNN Indonesia --
Ketidakpastian masih menyelimuti rencana pemberian insentif kendaraan motor listrik hingga pertengahan September 2026. Skema bantuan tersebut mulanya dirancang cair bulan ini namun hingga beberapa hari menuju Oktober tak ada kepastian.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan pihaknya kini sepenuhnya menunggu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) resmi diterbitkan. Kementerian Perindustrian sendiri telah merampungkan petunjuk teknis (juknis) sebagai landasan pelaksanaan di lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita menteri teknisnya sudah siap. Kalau Menteri Keuangannya menetapkan memberikan insentif, secara teknis regulasinya kita bisa," ujar Agus saat ditemui di Hotel Fairmont, Jakarta mengutip detikFinance, Rabu (23/9).
Ini berarti kepastian insentif motor listrik tergantung Suahasil Nazara, menteri keuangan baru. Dia baru saja menduduki posisi itu dua pekan usai dilantik pada 14 September.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri keuangan sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa, saat masih menjabat sempat membeberkan besaran insentif dipangkas dari rencana awal Rp5 juta menjadi Rp3 juta per unit.
Nilai Rp3 juta tersebut rencananya dialokasikan untuk 1 juta unit motor listrik rakitan lokal dengan total anggaran mencapai Rp3 triliun.
"Itu programnya sama. Jadi 1 juta itu pasti nggak habis tahun ini kan kalau kita lihat. Kalau nggak salah masing-masing Rp 3juta. (Anggarannya) Rp3 triliun," ujar Purbaya di Jakarta, Kamis (24/9).
Purbaya juga memprediksi kuota 1 juta unit tersebut tidak akan habis terserap tahun ini akibat keterbatasan kapasitas produksi nasional. Penyerapan hingga akhir tahun diproyeksikan hanya menyentuh angka 100.000 unit.
"Itu masih kita lihat apakah daya serapnya cukup tahun ini untuk menyerap semua uang itu. Kayaknya sih nggak. Kan kapasitas produksi motor nasional belum sampai 1 juta kan. Ada yang cuma 20 ribu. Saya pikir paling 100 ribu sampai akhir tahun. Jadi nanti saya pikirkan apa bisa ditambah," katanya.
Di sisi lain, belum pastinya regulasi ini berdampak langsung pada merosotnya pasar. Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi mengungkapkan bahwa angka penjualan motor listrik merosot hingga menyisa 18.900 unit hingga Agustus 2026.
Angka ini turun drastis dibanding penjualan tahun 2024 yang menembus 77.000 unit berkat subsidi, serta tahun 2025 yang masih mencatatkan angka 70.000 unit meski tanpa subsidi.
"Di tahun 2026, sampai dengan bulan Agustus, kami sekarang ini baru sekitar 18.900. Jadi sangat turun sekali. Kenapa demikian? Tadi Pak Ketua Periklindo sudah menyampaikan, karena menyangkut masalah kebijakan pemerintah yang kadang ada, kadang tidak ada. Ini cukup mengganggu dari industri, karena memang masyarakat juga banyak yang menunggu kapan untuk subsidi akan diberikan," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi VII DPR, Senin (21/9).
(hjn/fea)