Jakarta (ANTARA) - Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengatakan penambahan sentra pendidikan dengan memanfaatkan 3.200 rumah sakit (RS) di seluruh Indonesia dapat mengejar pemenuhan kebutuhan nasional akan spesialis.
"Kita kan nggak punya 3.000 fakultas kedokteran. Tapi, kita punya 3.200 rumah sakit. Di luar negeri ini dilakukannya juga di rumah sakit," katanya dalam Peluncuran Seleksi Program Studi Baru RS Pendidikan sebagai Penyelenggara Utama (RSPPU) dan Serah Terima Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Batch IV ke RSPPU.
Budi menjelaskan masih ada 173 RS umum daerah di Indonesia yang belum memiliki tujuh spesialis dasar, padahal Indonesia sudah 81 tahun merdeka.
"Saya ingat waktu itu jalan-jalan ke Nias, ada kabupaten namanya Nias Utara, saya datang kesana ruang operasinya banyak laba-labanya, ada mesin anestesi nggak pernah dipakai ditutupi plastik. Saya tanya. 'Ini dokternya apa yang ada?' 'Oh, dokter umum dan satu spesialis Pak.' 'Spesialis apa?' 'Spesialis anak.' Bayangkan," katanya.
Dia mengatakan setiap rumah sakit minimal punya tujuh spesialis dasar, yakni spesialis penyakit dalam, spesialis anak, obgyn, bedah, anestesi, radiologi, patologi klinik.
Dia mengatakan Presiden Prabowo Subianto membangun 66 RSUD di daerah tertinggal.
"Begitu kita buka, alatnya kita kirim, cathlab kita kirim, itu 100 persen tidak ada spesialis jantung dan spesialis anak. Di 66 kampung yang paling tertinggal. Jadi bayangkan Bapak-Ibu kekurangannya ini luar biasa sekali," kata Budi.
Dia mengatakan di Indonesia, pada 2021-2022 ada 21 fakultas kedokteran sebagai sentra pendidikan spesialis dengan produksi 2.700 spesialis.
"Nah karena saya bukan orang dari kesehatan, saya hobinya membandingkan. Korea itu berapa sih? Korea itu penduduknya seperlima Indonesia. Ternyata dia produksinya 3.000 dokter spesialis per tahun. Lebih banyak dari Indonesia yang penduduknya 280 juta, 5 kali Korea," katanya.
Begitu pun dengan Inggris, yang produksi dokter spesialisnya mencapai 12 ribu meski penduduknya hanya 70 juta.
"Jauh di bawah. Nah sekarang saya tanya, kenapa kok sedikit? Yang pertama saya lihat, ternyata memang sentra pendidikannya sedikit. Di Indonesia waktu saya masuk 21 sentra pendidikannya. Korea 200 rumah sakit. Inggris 700 rumah sakit. Amerika, tanya beliau tadi pagi 1.000 rumah sakit. Ya nggak mungkin yang 21 ini bisa produksi banyak," katanya.
Dia menyebut bahwa Indonesia perlu memperbanyak sentra pendidikan spesialis agar pesertanya bisa disesuaikan dengan kasus medis yang paling banyak ditangani, sehingga kualitas spesialis yang dihasilkan juga bagus.
Pemerintah membuka 25 program studi PPDS di sejumlah rumah sakit, dan seleksi dibuka untuk program-program tujuh spesialis dasar tersebut.
Pemerintah menggandeng sejumlah RS swasta, seperti RS Hermina Depok.
Selain program tujuh spesialis dasar, ada juga program spesialis untuk kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi (KJSU). Kali ini, pihaknya melibatkan RS milik TNI, yakni RSPAD Gatot Subroto untuk prodi ortopedi dan traumatologi, dan RS organisasi keagamaan, yakni RS Islam Muhammadiyah Cempaka Putih.
Pemenuhan kebutuhan dokter spesialis yang merata terus diakselerasi oleh Kementerian Kesehatan guna menjamin kualitas layanan medis di seluruh pelosok negeri.
Guna mendukung keberlanjutan serta pengembangan penyelenggaraan Program Pendidikan Dokter Spesialis di Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU), sistem pendidikan berbasis rumah sakit ini terus diperluas melalui pembukaan program studi baru.
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Uploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.