Menhut maksimalkan OMC untuk tangani karhutla sepanjang September

calendar_today 31.08.2026 - person  - timer ~

Menhut maksimalkan OMC untuk tangani karhutla sepanjang September

Senin, 31 Agustus 2026 17:56 WIB

Image Print

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni usai Rakor Penanganan Karhutla, di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (31/8/2026). ANTARA/HO-Kemenhut RI

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan pemerintah akan memaksimalkan operasi modifikasi cuaca (OMC), water bombing, dan satuan tugas darat untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang September 2026 ini.

Menurut Menhut, bulan September menjadi periode krusial dalam penanganan karhutla di berbagai daerah.

“Karena September ini kita di puncak. Mudah-mudahan betul nanti kalau misalkan September sudah ada hujan, tapi kalau tadi kita dengarkan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lagi, saya dengar baru awal Oktober nanti ada potensi hujan. Jadi sebulan ini adalah battleground kita,” kata Menhut Raja Antoni dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin.

Lebih lanjut ia mengatakan, OMC menjadi salah satu upaya yang perlu dimaksimalkan selama masih terdapat peluang untuk melakukan operasi tersebut.

“Karena bagaimana pun, yang paling efektif ini memang OMC, dan karena kita masih punya window untuk melakukan OMC,” ujarnya pula.

Selain OMC, Menhut menyebut water bombing dan pasukan darat sekaligus sebagai bagian dari strategi penanganan karhutla.

Menhut meminta penempatan pasukan diatur berdasarkan lokasi yang memiliki banyak hotspot serta dilakukan pergantian personel untuk menjaga kondisi pasukan.

“Yang ketiga tentu saja pasukan darat, satgas darat. Saya berharap sekali nanti deployment-nya bisa diatur semaksimal mungkin di tempat masing-masing yang banyak hotspot-nya, berapa kali sehari mereka harus bergantian,” kata dia lagi.

Raja Juli Antoni juga menyampaikan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berupaya menambah personel melalui mekanisme bawah kendali operasi (BKO).

“Termasuk kami juga di Kementerian Kehutanan berusaha untuk melakukan BKO sekitar 1.000 orang lebih, bertambah,” ujarnya.

Menurut dia, pengaturan personel tambahan juga penting agar dapat membantu pekerjaan pasukan utama di lapangan dan mengantisipasi kelelahan.

“Personel yang tidak memiliki keahlian khusus pemadaman tetap dapat membantu pekerjaan pendukung,” kata dia pula.

Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026