Menhub: Erupsi Anak Krakatau Jadi Pelajaran Berharga Perkuat Kesiapsiagaan Transportasi |Republika Online

calendar_today 09.10.2026 - person  - timer ~

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa penanganan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) menjadi pelajaran krusial untuk memperkuat kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi gangguan atau keadaan darurat transportasi. Pengalaman tersebut dinilai membuktikan bahwa sistem transportasi harus selalu siap menghadapi situasi darurat yang dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa peringatan dini.

"Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kerja sama yang sangat baik dari semua pihak dalam mengatasi dampak dari letusan Gunung Anak Krakatau dan ini menjadi pelajaran buat kita," ujar Menhub Dudy di Jakarta, Jumat (9/10).

Menhub menjelaskan, koordinasi cepat antar pemangku kepentingan menjadi kunci sehingga berbagai keputusan operasional dapat segera diambil. Keselamatan, tegasnya, tetap menjadi prioritas utama dalam penanganan kondisi luar biasa tersebut. Penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta kala itu merupakan langkah mitigasi untuk memastikan operasional penerbangan tidak membahayakan penumpang maupun awak pesawat.

Dampak Signifikan dan Kolaborasi Multipihak

Gangguan akibat abu vulkanik ini berdampak signifikan. Dudy menyebut sekitar 300 ribu penumpang terdampak selama beberapa hari, termasuk sekitar 30 ribu penumpang di Bandara Soekarno-Hatta yang memerlukan penanganan layanan secara terpadu. Banyak penumpang sempat tertahan di bandara, namun berkat penanganan bersama, kebutuhan mereka tetap terpenuhi.

Kolaborasi seluruh pemangku kepentingan disebut sebagai faktor utama keberhasilan penanganan. Pengelola bandara, penyelenggara navigasi penerbangan, serta maskapai seperti Citilink, Garuda Indonesia, dan Lion Group berkoordinasi erat menghadapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Kita bisa mengatasi sesuatu yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya, dan alhamdulillah berkat kerjasama yang sangat baik dari semua pihak sekian puluh ribu penumpang bisa teratasi dengan baik. Kemudian juga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sampai dengan kita membuka kembali bandara Soekarno-Hatta," ucap Dudy.

Ia menilai pengalaman tersebut membuktikan pentingnya prosedur tanggap darurat yang jelas. Sinergi antara regulator, pengelola bandara, penyelenggara navigasi penerbangan, dan maskapai menjadi faktor utama yang mendukung penanganan situasi berjalan secara efektif dan terkendali.

Penyempurnaan Prosedur Darurat

Pembelajaran dari peristiwa itu, menurut Dudy, akan menjadi bekal untuk menyempurnakan kesiapsiagaan serta meningkatkan kemampuan menghadapi gangguan transportasi akibat bencana maupun keadaan darurat lainnya. Ia berharap pengalaman ini dapat memperkuat ketahanan sektor transportasi nasional.

Sebelumnya, Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Achmad Setiyo Prabowo mengatakan penanganan abu vulkanik akibat erupsi pada 5-8 September 2026 menjadi perhatian serius karena berdampak pada banyak bandar udara yang sempat ditutup sementara. Selain Bandara Soekarno-Hatta, bandara lain yang terdampak antara lain Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung, Bandara Husein Sastranegara Bandung, Bandara Budiarto Curug, Bandara Pondok Cabe, Bandara Taufik Kiemas, dan Bandara Atung Bungsu.

"Bayangkan kalau di kondisi seperti ini kami regulator hanya bekerja sendiri, oh sudah ampun. Mungkin masyarakat sudah banyak komplain, ngeluh, dan lain sebagainya," kata Achmad di Bandung, Jumat (2/10), menegaskan peran vital kolaborasi dalam menjaga layanan penerbangan tetap terkendali saat situasi darurat.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara