Menghaluskan kata tak mengubah faktanya

calendar_today 25.08.2026 - person  - timer ~

Jakarta (ANTARA) - Seorang kepala kantor ditanya bawahannya apakah dirinya berencana mengunjungi rumah Fulan, sopir kantor yang baru pulang dirawat karena kecelakaan. Pertama kali ditanya, sang kepala menjawab, "Nanti kita lihat." Kali kedua ia berkata, "Biarkan dia istirahat dulu." Terakhir ia bilang, "Kalian saja ke sana, wakili saya." Semua jawabannya mengarah ke satu hal: tidak.

​Di lain waktu dan tempat, ada mobil tertabrak kereta dan penumpangnya tewas. Semua orang mafhum, operator tak bisa disalahkan karena kereta berjalan di jalur khusus yang bebas dari kendaraan lain.

Ada awalan "ter-" dalam kata "tertabrak". Menurut tata bahasa Indonesia, awalan itu menyiratkan perbuatan yang tidak disengaja. Anehnya, kata "tertabrak" masih dianggap belum cukup mewakili insiden kecelakaan kereta, sehingga muncullah istilah lain, "tertemper".

Mobil yang tertabrak kereta bukan mobil Fulan. Saya tidak sedang menerapkan ilmu cocoklogi untuk mengaitkan dua cerita yang berbeda itu — satunya cuma rekaan dan lainnya memang kejadian sesungguhnya.

Lagi pula, bukan soal kecelakaannya yang ingin saya sorot di sini, tetapi cara kita berbahasa. Pilihan kata bisa menentukan apakah maksud pembicara diartikan sama atau berbeda oleh pendengar atau pembaca.

Kata "tertemper" tidak ada di KBBI. Itu adalah istilah khusus yang dipakai KAI dalam keterangan dan laporan resminya. Artinya sama saja, tertabrak. Saya kurang paham apakah kesamaan bentuknya dengan "tertampar" menunjukkan adanya relasi makna.

Dari cerita soal Fulan dan mobil tertabrak kereta, kita bisa melihat bagaimana manusia dihadapkan pada dilema ketika berbahasa. Kita sulit memilih antara berkata jujur meski pahit atau berbohong dengan manis.

Dalam situasi tertentu, bicara terus terang memang lebih berisiko daripada membual.

Dulu saya senang ketika seorang kawan bilang "gantengan kamu dikit" daripada bos. Padahal mungkin saja maksud dia adalah kegantengan bos lebih banyak daripada saya. Untunglah, bos saya sekarang seorang perempuan.

​Dalam berkomunikasi sehari-hari, kita sering mengatakan sesuatu yang tidak harus diartikan secara apa adanya.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.