Menembus Pelosok, 132 Dai Lanjutkan Perjuangan Dakwah Pedalaman Berkat Dukungan ZIS |Republika Online

calendar_today 03.09.2026 - person  - timer ~

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dakwah di pedalaman Indonesia bukan sekadar menyampaikan pesan keagamaan dari mimbar ke mimbar.

Di tengah keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, air bersih, dan berbagai kebutuhan dasar, para dai dituntut hadir lebih jauh: hidup bersama masyarakat, mendampingi mereka, sekaligus menjadi penggerak perubahan.

Semangat itulah yang kembali dihidupkan melalui pengiriman 132 dai dakwah pedalaman yang akan diterjunkan ke berbagai daerah di Indonesia.

Mereka tidak hanya membawa misi dakwah, tetapi juga membawa semangat pengabdian untuk membantu masyarakat yang selama ini berada jauh dari jangkauan berbagai layanan dasar.

Pelepasan para dai tersebut menjadi bagian dari acara Pelepasan 132 Dai dan Tasyakur 55 Tahun Dakwah Pedalaman Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Jakarta, Sabtu (15/8/2026) lalu.

Ketua Umum Dewan Dakwah, KH Dr Adian Husaini, menegaskan bahwa dakwah pedalaman merupakan perjuangan panjang yang telah dirintis sejak 1967 oleh Mohammad Natsir. Karena itu, keberadaan para dai di pelosok bukan sekadar program sesaat, melainkan bagian dari upaya meneruskan amanah dakwah dari generasi ke generasi.

“Dakwah tidak hanya menyampaikan nilai keagamaan, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata melalui kepedulian, pelayanan, dan pendampingan masyarakat,” tegas kata dia, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (3/9/2026)

Pernyataan tersebut menggambarkan wajah dakwah pedalaman yang tidak berhenti pada aktivitas ceramah. Para dai dituntut menyatu dengan kehidupan masyarakat, memahami persoalan yang mereka hadapi, dan mencari jalan keluar bersama-sama.

Para dai yang dikirim merupakan lulusan setingkat sarjana (S1) dari STID Mohammad Natsir. Sebelum diterjunkan ke wilayah pedalaman, mereka telah menjalani proses pendidikan dan pembinaan yang cukup panjang.

Mereka menjalani dua tahun pendidikan berasrama, kemudian dilanjutkan dengan dua tahun pengabdian aktif di masjid atau majelis taklim.

Setelah melalui tahapan tersebut, mereka diutus untuk hidup berdampingan langsung dengan masyarakat pedalaman selama dua tahun berikutnya.

Dengan pola tersebut, dakwah tidak ditempatkan sebagai aktivitas yang datang sebentar lalu pergi.

Para dai justru dituntut hadir dalam keseharian masyarakat—mendengarkan persoalan mereka, membangun kepercayaan, dan secara perlahan mengembangkan potensi yang ada.

Di sejumlah wilayah, persoalan masyarakat pedalaman juga berkaitan erat dengan terbatasnya akses terhadap pendidikan dan kesehatan. Karena itu, kehadiran da’i dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai bentuk pendampingan sosial.

Kontribusi tersebut antara lain terlihat dalam bidang pendidikan. Ekosistem pendidikan Dewan Dakwah tercatat telah membantu 117.979 warga terbebas dari buta aksara Alquran.

Sementara di bidang kesehatan, para dai berperan sebagai fasilitator lapangan dalam program Nurhealth Connection, layanan telemedicine yang menghubungkan masyarakat pedalaman dengan dokter yang bersiaga di Jakarta.