Membuka ruang belajar setara lewat layar pintar IFP

calendar_today 02.10.2026 - person  - timer ~

Membuka ruang belajar setara lewat layar pintar IFP

Jumat, 2 Oktober 2026 09:46 WIB

Image Print

Screenshot (Antara)

Jakarta (ANTARA) - Suasana belajar di sebuah ruang kelas sekolah luar biasa (SLB) itu perlahan berubah.

Jika sebelumnya suara guru menjadi penanda utama berlangsungnya pelajaran, kini perhatian para murid juga tertuju pada layar digital di hadapan mereka.

Di layar itu, gambar, video, audio, dan beragam materi pembelajaran hadir dalam bentuk yang lebih interaktif.

Sesekali tangan menyentuh permukaan layar, sementara suara dari materi yang diputar membantu sebagian murid mengikuti pelajaran dengan cara yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Bagi peserta didik dengan hambatan dan kemampuan yang beragam, kehadiran teknologi tersebut bukan sekadar menghadirkan perangkat baru di dalam kelas.

Lebih dari itu, teknologi memberi pilihan baru bagi mereka untuk melihat, mendengar, menyentuh, dan memahami materi pembelajaran.

Pengalaman tersebut terlihat di ruang kelas SLB YPCC Banda Aceh.

Di sekolah itu, cara setiap murid menangkap pelajaran tidaklah sama.

Bagi murid tunanetra misalnya, suara menjadi jembatan utama untuk memahami informasi yang disampaikan guru.

Sementara bagi murid dengan low vision, ukuran tampilan menjadi penting agar tulisan, gambar, dan materi yang tersaji di depan kelas dapat terlihat lebih jelas.

Kehadiran Interactive Flat Panel (IFP) pun memberi ruang bagi kebutuhan belajar yang berbeda tersebut.

Guru Kelas Hambatan Penglihatan SLB YPCC Banda Aceh Novi Widiastuti mengatakan IFP membantu murid tunanetra mengikuti pembelajaran melalui indra pendengaran, sekaligus memungkinkan murid dengan low vision memperbesar tampilan materi sesuai kebutuhan.

“Saya bisa memperbesar huruf dan gambar untuk murid low vision, sementara murid tunanetra dapat belajar melalui narasi, audio, video, serta materi yang dipadukan dengan huruf Braille. Pembelajaran menjadi jauh lebih interaktif dan membuat murid lebih percaya diri mengakses materi,” kata Novi.

Bagi Novi, kemudahan tersebut membuat satu materi pelajaran dapat disajikan dengan cara yang berbeda tanpa harus mengubah tujuan pembelajaran.

Murid pun memiliki lebih banyak pilihan untuk memahami materi sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Pengalaman lain

Pengalaman lain datang dari kelas IIIQ SLB YPCC Banda Aceh. Guru kelas Anggawinata melihat bagaimana sebuah video sederhana dapat membantu seorang murid autisme yang sebelumnya kerap mengalami kesulitan memusatkan perhatian selama proses pembelajaran.

“Anak autisme lebih mudah belajar lewat gambar dan suara. Dulu ada murid yang sulit fokus dan sering tantrum, tetapi ketika saya memutar video pembelajaran di IFP, ia bisa duduk tenang hingga selesai dan fokus memperhatikan layar. Perkembangannya luar biasa,” kata Anggawinata.

Perubahan itu menunjukkan bagaimana media pembelajaran yang tepat dapat membantu anak menemukan cara belajar yang paling nyaman bagi dirinya.

Fleksibilitas IFP juga memberi keleluasaan kepada guru untuk menyesuaikan materi dengan karakteristik setiap peserta didik sehingga pembelajaran tidak harus berlangsung dengan satu pola yang sama.

“Ada yang lebih mudah memahami gambar, ada yang lebih paham lewat video atau audio. Semuanya bisa disesuaikan sehingga belajar tidak lagi monoton. Anak-anak juga lebih aktif karena dapat langsung berinteraksi melalui layar sentuh,” kata Angga.

Cerita tentang teknologi yang membantu membuka akses belajar juga dirasakan Raka, siswa kelas X SLB Negeri Trituna, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Sebagai murid tunanetra, ia terbantu oleh fitur TalkBack pada IFP yang memberikan panduan suara saat mengoperasikan layar.

“TalkBack itu panduan suara untuk tunanetra. Jadi belajar lebih seru dan menarik. Dengan IFP, baik tunanetra maupun penyandang disabilitas lainnya bisa ikut belajar dan punya kesempatan yang sama,” ujar Raka.

Bagi Raka, layar digital di hadapan para murid bukan lagi sekadar benda yang hanya bisa dilihat.

Melalui bantuan suara dan fitur aksesibilitas, layar tersebut menjadi ruang untuk berinteraksi dan mengikuti pembelajaran.

Ya, IFP di ruang kelas SLB tidak lagi sekadar menjadi papan pintar yang menggantikan papan tulis konvensional.

Di balik layar yang dapat disentuh dan dioperasikan itu, terdapat upaya untuk menghadirkan lebih banyak pilihan agar setiap peserta didik dapat mengakses pengetahuan dengan cara yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya.

Upaya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih inklusif tersebut menjadi bagian dari agenda digitalisasi pendidikan yang terus diperluas pemerintah dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan, pengalaman-pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa IFP bukan semata-mata menghadirkan perangkat teknologi di ruang kelas.

Memperluas akses

Kehadiran IFP menjadi bagian dari upaya memperluas akses terhadap pembelajaran bermutu bagi setiap murid, termasuk peserta didik penyandang disabilitas.

Menurut Tatang, di sekolah luar biasa, IFP memberi keleluasaan kepada guru untuk menghadirkan pembelajaran melalui lebih banyak cara, mulai dari visual, audio, hingga materi yang interaktif dan multimodal.

Fleksibilitas tersebut memungkinkan pembelajaran disesuaikan dengan keragaman kebutuhan setiap anak.

“Karena itu, manfaat digitalisasi tidak hanya kami ukur dari ketersediaan perangkat, tetapi dari kemampuannya mengurangi hambatan belajar, meningkatkan partisipasi, dan memperluas kesempatan setiap murid untuk berkembang secara optimal,” kata Tatang menjawab pertanyaan ANTARA, awal Oktober .

Ia mengatakan, mandat yang diemban Kemendikdasmen bukan hanya memastikan teknologi pembelajaran tersedia di sekolah, tetapi juga memastikan teknologi tersebut benar-benar dapat mendukung peserta didik dengan beragam kebutuhan.

“Tujuan transformasi digital pendidikan mentransformasi pendidikan yang inklusif, agar kemajuan teknologi sekaligus memperkuat pemerataan dan keadilan dalam memperoleh layanan pendidikan bermutu untuk semua,” kata Tatang.

Upaya tersebut mulai terlihat dari jumlah satuan pendidikan yang menerima perangkat digital.

Pada 2025, pemerintah menyalurkan masing-masing satu unit IFP beserta perangkat pendukung kepada 288.865 satuan pendidikan, termasuk 2.360 sekolah luar biasa. Hingga Juli 2026, program serupa telah menjangkau 13.838 satuan pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Penyaluran itu juga disertai 30.285 laptop dan perangkat penyimpanan eksternal untuk mendukung pemanfaatan teknologi di sekolah.

Namun, layar dan perangkat digital hanyalah salah satu bagian dari perubahan.

Agar teknologi benar-benar hidup di ruang kelas, guru juga perlu memiliki kemampuan untuk menggunakannya sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Menurut data Kemendikdasmen, sebanyak 33.156 guru dan tenaga kependidikan telah mengikuti pelatihan pembelajaran digital.

“Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan perangkat yang hadir di sekolah tidak berhenti sebagai benda baru, tetapi benar-benar menjadi alat yang membantu proses belajar,” kata Tatang.

Dukungan ekosistem

Dukungan terhadap ekosistem digital itu pun diperluas hingga ke hal-hal yang kerap tidak terlihat dari dalam layar, seperti ketersediaan internet dan listrik.

Hingga akhir 2025, pemerintah telah memberikan akses internet kepada 8.265 satuan pendidikan dan layanan listrik kepada 2.389 satuan pendidikan.

Kemudian pada akhir 2026, perluasan akses internet ditargetkan dapat menjangkau 16.557 satuan pendidikan.

Kebutuhan listrik juga terus ditindaklanjuti bagi 227.365 satuan pendidikan, yang mencakup 26.162 sambungan baru dan penambahan daya pada 201.203 sekolah.

Sementara bagi 9.544 sekolah yang berada di luar jaringan PLN, pemerintah menyiapkan alternatif tenaga surya berbasis baterai dan sistem off-grid.

Di sisi lain, teknologi juga membutuhkan bahan belajar yang dapat langsung digunakan guru dan murid.

Karena itu, Kemendikdasmen mengintegrasikan IFP dengan Rumah Pendidikan, platform yang telah digunakan lebih dari 6,9 juta pengguna dan menyediakan 4.843 sumber belajar gratis.

Rangkaian upaya tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi pendidikan tidak berhenti pada hadirnya layar baru di dalam kelas.

Ada guru yang belajar menggunakan teknologi, ada sekolah yang membutuhkan listrik dan internet, serta ada peserta didik yang memerlukan cara berbeda untuk memahami sebuah pelajaran.

Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, transformasi digital pendidikan pun tidak lagi semata tentang seberapa banyak perangkat yang dapat ditempatkan di sekolah, namun juga tentang bagaimana teknologi membuka pintu belajar yang lebih setara bagi setiap anak.

Dari suara yang memandu murid tunanetra, ukuran huruf yang dapat diperbesar bagi murid low vision, hingga gambar dan video yang membantu murid memusatkan perhatian, teknologi pada akhirnya bukan semata tentang kecanggihan perangkat, melainkan tentang bagaimana sebuah ruang kelas dapat menjadi lebih terbuka bagi semua anak.

Pewarta : Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026