Jakarta, CNN Indonesia --
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II 2026 menjadi angin segar di tengah ketidakpastian ekonomi global. Apalagi jika dilihat secara kumulatif atau semester I 2026 berhasil tumbuh 5,45 persen.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, seluruh komponen tercatat tumbuh, termasuk konsumsi rumah tangga yang naik 5,06 persen dan investasi menanjak 6,87 persen.
Kemudian disusul kinerja ekspor tumbuh 4,13 persen, konsumsi pemerintah 15,97 persen dan impor 8,82 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsumsi pemerintah menjadi komponen tertinggi pertumbuhan ekonomi kali ini, didorong peningkatan realisasi belanja pegawai sejalan dengan pembayaran gaji ke-13 untuk ASN/TNI/Polri serta akselerasi pembayaran tunjangan tenaga pendidik non-PNS.
Belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat berupa program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada periode April-Juni tersebut.
Dari sisi lapangan usaha, seluruh sektor tercatat tumbuh kecuali pertambangan yang minus 1,64 persen. Sementara itu, pertumbuhan tertinggi terjadi di usaha pengadaan listrik dan gas tumbuh 10,81 persen, serta akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60 persen.
Artinya, angka yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) itu memperlihatkan bahwa ekonomi domestik masih mampu bertahan di tengah tekanan geopolitik, perlambatan ekonomi sejumlah negara mitra dagang, hingga fluktuasi harga komoditas.
Namun, di balik capaian tersebut, para ekonom mengingatkan bahwa tantangan sebenarnya justru dimulai setelah angka pertumbuhan diumumkan.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai hasil pertumbuhan ekonomi kuartal II menjadi sinyal positif bahwa target pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berpotensi melampaui 5,2 persen.
"Setelah keluarnya data PDB kuartal II maka kemungkinan besar PDB tahun ini akan ditutup di atas 5,2 persen," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/8).
Optimisme tersebut, menurut Andry, tidak muncul tanpa alasan. Selama enam bulan pertama tahun ini, pemerintah dinilai berhasil menjaga momentum ekonomi tetap berada di atas level psikologis 5 persen.
"Selama ini langkah pemerintah menjaga pertumbuhan mulai terlihat dengan pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas 5 persen meskipun tidak ada penopang seasonal seperti Ramadan dan Nataru," kata Andry.
Artinya, pertumbuhan kali ini mulai memperlihatkan daya tahan ekonomi domestik yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Meski demikian, Andry mengingatkan momentum tersebut tidak boleh dianggap selesai. Pemerintah masih memiliki pekerjaan besar agar laju pertumbuhan tetap terjaga hingga penghujung tahun.
Menurutnya, setidaknya ada tiga fokus utama yang harus terus dijaga. Pertama, menjaga daya beli masyarakat melalui stabilitas harga dan kecukupan pasokan pangan.
HALAMAN: