Memahami manusia sebelum membantu - ANTARA News Megapolitan

calendar_today 02.08.2026 - person  - timer ~

Surabaya (ANTARA) - Selama bertahun-tahun, persoalan kemiskinan di Indonesia tidak selalu berhenti pada besarnya anggaran bantuan. Tantangan yang lebih rumit justru terletak pada ketepatan sasaran dan kecocokan bentuk intervensi.

Tidak sedikit bantuan modal usaha berakhir menjadi aset yang terbengkalai. Gerobak dagang yang semula diharapkan menjadi awal kemandirian berubah menjadi barang yang tidak dimanfaatkan.

Pelatihan kerja tidak selalu melahirkan tenaga kerja baru. Bahkan bantuan sosial yang dirancang untuk mengurangi kemiskinan terkadang hanya menyelesaikan persoalan dalam hitungan hari.

Fenomena tersebut memperlihatkan satu persoalan mendasar, bahwa kemiskinan bukanlah kondisi yang seragam. Di balik angka statistik terdapat manusia dengan karakter, pengalaman hidup, kemampuan, motivasi, serta tantangan yang berbeda-beda.

Karena itu, pendekatan yang sama kepada semua warga berisiko melahirkan apa yang dapat disebut sebagai distorsi bantuan. Bantuan hadir, tetapi manfaatnya tidak optimal.

Kesadaran itulah yang mulai diterjemahkan Pemerintah Kota Surabaya melalui inovasi Brida Step atau Surabaya Talent Entrepreneurial Path. Program yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) itu menawarkan pendekatan yang berbeda. Sebelum bantuan diberikan, warga terlebih dahulu dipetakan berdasarkan kapasitas psikologis, motivasi, serta potensi pengembangannya.

Jika selama ini pertanyaan yang diajukan adalah "bantuan apa yang akan diberikan", Brida Step mencoba membalik cara berpikir menjadi "siapa yang akan menerima dan apa yang benar-benar dibutuhkan". Pergeseran sederhana itu sesungguhnya menyimpan perubahan paradigma yang cukup besar dalam tata kelola kebijakan sosial.


Membaca potensi

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat kemiskinan Indonesia terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, penurunan angka tersebut tidak otomatis menghapus persoalan efektivitas program pemberdayaan.

Di banyak daerah, pemerintah masih menghadapi tantangan bagaimana memastikan bantuan mampu mengubah penerima menjadi warga yang mandiri.

Surabaya tampaknya mencoba menjawab tantangan itu melalui riset. Brida bersama Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) melakukan penelitian awal terhadap 448 responden yang tersebar di 30 kecamatan. Hasilnya memperlihatkan bahwa warga miskin memiliki karakteristik yang sangat beragam.

Sebagian membutuhkan penguatan motivasi dan mentalitas kerja. Sebagian lain sebenarnya siap bekerja apabila memperoleh arahan yang tepat. Ada pula kelompok yang telah memiliki disiplin tinggi sehingga layak diarahkan menjadi pelaku usaha. Bahkan terdapat kelompok yang memiliki potensi kepemimpinan untuk tumbuh sebagai wirausaha.

Temuan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi implikasinya sangat besar.

Selama ini berbagai program pemberdayaan sering menggunakan pendekatan seragam. Warga memperoleh bantuan modal, pelatihan, atau sarana usaha tanpa mengetahui kesiapan psikologis maupun kapasitas individu. Akibatnya, tingkat keberhasilan setiap program sangat bervariasi.

Dalam ilmu kebijakan publik, kondisi seperti itu dikenal sebagai one size fits all policy, yakni kebijakan yang menganggap seluruh penerima memiliki kebutuhan yang sama. Pendekatan tersebut semakin banyak ditinggalkan karena dinilai kurang efektif dalam menghadapi persoalan sosial yang kompleks.

Brida Step justru bergerak ke arah sebaliknya. Program ini menggunakan asesmen psikologi melalui Tes TIPI (Inventaris Kepribadian Sepuluh Item), Tes Grit (kuesioner psikologi untuk mengukur kombinasi antara passion dan ketekunan seseorang dalam mencapai tujuan), dan Tes Kewirausahaan untuk mengenali karakter setiap individu sebelum menentukan bentuk intervensi.

Artinya, bantuan tidak lagi menjadi tujuan utama, melainkan konsekuensi dari hasil pemetaan yang lebih komprehensif.

Pendekatan semacam ini juga sejalan dengan arah pembangunan nasional yang semakin menekankan kebijakan berbasis data (evidence based policy). Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional maupun agenda transformasi birokrasi, penggunaan data dan hasil riset menjadi fondasi penting agar belanja pemerintah menghasilkan dampak yang lebih nyata.

Melampaui bantuan

Hal menarik dari Brida Step bukan semata penggunaan instrumen psikologi, melainkan cara pandangnya terhadap kemiskinan.

Program ini secara tidak langsung mengakui bahwa persoalan ekonomi sering kali berkaitan erat dengan aspek psikologis. Kemiskinan dapat memengaruhi rasa percaya diri, motivasi, hingga keberanian mengambil keputusan. Sebaliknya, kondisi mental yang kuat mampu membantu seseorang memanfaatkan peluang ekonomi secara lebih optimal.

Berbagai penelitian internasional, termasuk yang dipublikasikan oleh Bank Dunia, menunjukkan bahwa tekanan ekonomi berkepanjangan dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam merencanakan masa depan, mengambil keputusan, bahkan mengelola risiko. Karena itu, intervensi sosial tidak cukup hanya berbentuk bantuan materi, tetapi juga perlu memperkuat kapasitas manusia.

Dalam konteks tersebut, langkah Surabaya menggandeng perguruan tinggi seperti Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Ciputra, dan Universitas Surabaya menjadi menarik karena membangun jembatan antara hasil riset akademik dengan implementasi kebijakan publik.

Kolaborasi semacam ini masih relatif jarang ditemukan dalam pengelolaan program pengentasan kemiskinan di tingkat pemerintah daerah.

Meski demikian, tantangan Brida Step juga tidak sedikit. Uji coba terhadap pekerja Rumah Padat Karya menemukan kendala literasi digital serta keterbatasan kepemilikan telepon pintar. Temuan tersebut mengingatkan bahwa transformasi digital tidak boleh mengabaikan realitas sosial masyarakat.

Keputusan Brida menggunakan sistem hibrida melalui laman web maupun formulir cetak menjadi langkah yang patut diapresiasi. Inovasi tidak selalu identik dengan digitalisasi penuh. Inovasi justru berhasil ketika mampu menjangkau seluruh kelompok masyarakat tanpa menciptakan kesenjangan baru.

Tantangan lain adalah menjaga konsistensi pendampingan. Asesmen psikologi hanya menjadi awal. Keberhasilan program akan sangat ditentukan oleh proses inkubasi, pelatihan, monitoring, hingga evaluasi jangka panjang.

Tanpa pendampingan berkelanjutan, hasil asesmen berisiko hanya menjadi data yang tersimpan dalam sistem informasi.


Menata harapan

Brida Step sesungguhnya menawarkan pelajaran penting bagi pembangunan sosial di Indonesia.

Selama ini keberhasilan program pengentasan kemiskinan sering diukur dari jumlah bantuan yang disalurkan atau besarnya anggaran yang terserap. Padahal ukuran yang lebih relevan adalah berapa banyak warga yang berhasil keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.

Perubahan orientasi tersebut menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan, bukan sekadar objek penerima bantuan.

Integrasi hasil Brida Step dengan sistem informasi Dinas Sosial maupun Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja juga membuka peluang terciptanya layanan publik yang lebih adaptif.

Setiap perangkat daerah dapat merancang intervensi sesuai profil masing-masing warga sehingga potensi tumpang tindih program maupun salah sasaran semakin kecil.

Ke depan, model seperti ini berpotensi diperluas hingga menyentuh sektor lain, mulai dari pendidikan, pelatihan vokasi, penempatan tenaga kerja, hingga pengembangan usaha mikro.

Bahkan, apabila dikembangkan secara konsisten, Surabaya dapat menjadi contoh bagaimana riset benar-benar menjadi fondasi pengambilan keputusan pemerintah daerah.

Tentu masih terlalu dini menyimpulkan keberhasilan Brida Step karena program ini masih berada pada tahap uji coba. Efektivitasnya baru dapat diukur setelah melalui implementasi yang lebih luas dan dievaluasi secara berkala.

Namun, keberanian mengubah paradigma patut diapresiasi. Di tengah tuntutan agar setiap rupiah anggaran publik menghasilkan manfaat nyata, pemerintah memang tidak cukup hanya menyalurkan bantuan. Pemerintah juga perlu memahami manusia yang menerima bantuan itu.

Kemiskinan tidak selalu lahir karena kurangnya modal. Ada kalanya ia tumbuh dari kesempatan yang tidak sesuai, pendampingan yang terputus, atau kebijakan yang belum mengenali karakter warganya.

Jika Brida Step mampu membuktikan bahwa bantuan yang tepat dimulai dari pemahaman yang tepat terhadap setiap individu, maka inovasi ini bukan hanya berpeluang mengurangi distorsi bantuan di Surabaya.

Lebih dari itu, ia dapat menjadi contoh bahwa riset, data, dan kemanusiaan dapat berjalan beriringan dalam menghadirkan kebijakan publik yang lebih adil, lebih efektif, dan lebih bermakna bagi perjalanan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.