Ontario (ANTARA) - Sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah rusak berat akibat serangan Iran. Fakta ini didukung foto dan video yang diperoleh ABC News ketika Pentagon menilai dampak perang yang telah berlangsung lebih dari enam bulan.
Laporan tersebut menyebut gambar-gambar itu menunjukkan bangunan dan sebuah pesawat rusak di tiga pangkalan AS di Kuwait serta satu pangkalan di Arab Saudi yang menjadi lokasi aset AS.
Sebagian aset di pangkalan tersebut telah dievakuasi, lapor ABC News.
Salah satu foto memperlihatkan pesawat pengintai E-3 Sentry senilai sekitar 270 juta dolar AS (sekitar Rp4,8 triliun) yang rusak pada akhir Maret di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi.
"Pangkalan-pangkalan ini telah rusak dan tidak dapat diperbaiki. Jika kami memilih membangunnya kembali, itu akan menjadi pekerjaan yang berlangsung selama puluhan tahun," kata seorang anggota senior militer AS yang berbicara dengan syarat anonim.
Anggota militer tersebut menuduh Pentagon kurang transparan mengenai kerusakan pangkalan.
"Serangan pesawat nirawak dan rudal balistik masih aktif menghantam pangkalan setiap hari," katanya.
Laporan inspektur jenderal Pentagon yang dirilis pada Senin menyebut "ratusan bangunan dan struktur" mengalami kerusakan.
Inspektur jenderal memperkirakan biaya perang mencapai 33 miliar dolar AS (sekitar Rp587,8 triliun). Sementara itu, Kantor Anggaran Kongres yang bersifat nonpartisan memperkirakan biaya tersebut mencapai 38 miliar dolar AS (sekitar Rp676,8 triliun).
Departemen Pertahanan AS mengatakan 18 personel militernya tewas dan 824 lainnya terluka sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Serangan paling mematikan terjadi pada hari kedua perang ketika enam tentara AS tewas di Port Shuaiba, Kuwait.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan perlindungan pasukan merupakan prioritas utama. Namun, ia mengakui sebagian senjata Iran berhasil menembus sistem pertahanan AS.
Sumber: Anadolu
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Media: Serangan Iran porak-porandakan pangkalan AS di Timur Tengah
Pewarta: Yoanita Hastryka Djohan
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.