Maulid Nabi: Sejarah, makna, dan alasan peringatannya

calendar_today 21.08.2026 - person  - timer ~

Jakarta (ANTARA) - Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu tradisi keagamaan yang terus diperingati umat Islam. Peringatan ini menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah sekaligus meneladani akhlak dan perjuangannya.

Maulid berasal dari kata Arab mawlid yang berarti kelahiran. Dalam tradisi masyarakat Muslim, Maulid Nabi umumnya diperingati pada 12 Rabiul Awal, meski terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal pasti kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pendapat 12 Rabiul Awal merupakan salah satu pendapat yang paling dikenal luas di Indonesia.

Asal-usul Maulid Nabi

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai sebuah perayaan keagamaan tidak dilakukan dalam bentuk tradisi peringatan tahunan pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup.

Sejarah perkembangan perayaan Maulid memiliki sejumlah versi. Salah satu catatan menyebut tradisi peringatan secara besar-besaran berkembang pada masa pemerintahan Sultan Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, penguasa Irbil, pada awal abad ke-7 Hijriah. Kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi yang diikuti masyarakat Muslim di berbagai wilayah.

Dalam perkembangannya, bentuk peringatan Maulid berbeda-beda di setiap daerah. Kegiatan dapat berupa pembacaan Al Quran, selawat, zikir, pembacaan sejarah kehidupan Nabi, pengajian hingga kegiatan berbagi makanan.

Di Indonesia, Maulid juga berkembang menjadi bagian dari tradisi masyarakat. Sejumlah daerah bahkan memiliki bentuk perayaan khas yang memadukan nilai keagamaan dengan budaya lokal. Salah satunya tradisi Walimah di Gorontalo yang melibatkan zikir, pembacaan selawat dan berbagi makanan. Tradisi tersebut diperkirakan telah berkembang sejak abad ke-17.

Mengapa Maulid Nabi diperingati?

Peringatan Maulid Nabi tidak sekadar untuk mengenang tanggal kelahiran Rasulullah SAW. Momentum tersebut juga digunakan untuk kembali mempelajari kehidupan, perjuangan dan akhlak Nabi Muhammad.

Dalam berbagai peringatan Maulid, kisah kehidupan Rasulullah biasanya disampaikan melalui kajian atau pembacaan sirah nabawiyah. Tujuannya agar umat tidak hanya mengenal sejarah Nabi, tetapi juga menjadikan perilakunya sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Al Quran juga menyebut Rasulullah sebagai teladan bagi umat manusia. Hal tersebut terdapat dalam QS Al-Ahzab ayat 21, yang menjelaskan bahwa pada diri Rasulullah terdapat contoh yang baik bagi orang-orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.

Baca juga: 325 ribu orang gunakan kereta api selama libur Maulid Nabi

Makna Maulid Nabi bagi umat Islam

Setidaknya terdapat sejumlah nilai yang dapat diambil dari peringatan Maulid Nabi.

1. Meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah

Mengenang kelahiran dan perjalanan hidup Nabi Muhammad dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah. Kecintaan tersebut kemudian diharapkan diwujudkan melalui usaha mengikuti ajaran dan sunnahnya.

2. Meneladani akhlak Nabi

Rasulullah dikenal sebagai sosok yang menjadi teladan dalam berbagai aspek kehidupan. Karena itu, peringatan Maulid dapat menjadi pengingat untuk menerapkan sifat seperti kejujuran, kesabaran, kasih sayang, keadilan dan kepedulian terhadap sesama.

3. Memperkuat persaudaraan

Peringatan Maulid umumnya dilakukan secara bersama-sama. Kegiatan seperti pengajian, selawat, makan bersama dan berbagi kepada sesama dapat menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga dan memperkuat ukhuwah.

4. Mempelajari sejarah Nabi

Maulid juga menjadi kesempatan untuk kembali mengenal kehidupan Rasulullah, mulai dari kelahiran, masa perjuangan menyebarkan Islam hingga keteladanannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca juga: Rest area Tol Japek buka tutup pada arus balik libur panjang

Tradisi Maulid berbeda di setiap daerah

Peringatan Maulid Nabi tidak memiliki bentuk yang sama di seluruh Indonesia. Setiap daerah memiliki tradisi masing-masing sesuai dengan kebudayaan setempat.

Di Gorontalo, misalnya, terdapat tradisi Walimah yang diisi dengan zikir dan pembagian makanan. Tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk perpaduan antara nilai keislaman dan budaya lokal.

Sementara itu, di berbagai daerah lainnya, masyarakat memperingatinya melalui pengajian, pembacaan Barzanji, selawat, santunan anak yatim, doa bersama maupun kegiatan sosial.

Keragaman tersebut menunjukkan bahwa bentuk perayaan dapat berbeda, sementara nilai yang ingin diambil tetap berpusat pada kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan upaya meneladani kehidupannya.

Maulid Nabi bukan sekadar seremonial

Peringatan Maulid Nabi idealnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana nilai-nilai yang dicontohkan Rasulullah diterapkan dalam kehidupan.

Peringatan Maulid juga dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak selawat, mempelajari sejarah Nabi, memperbaiki akhlak serta meningkatkan kepedulian kepada sesama.

Dalam peringatan Maulid pada 2025, sejumlah kegiatan keagamaan juga menekankan pentingnya menjadikan momentum tersebut sebagai sarana memperkuat kecintaan kepada Rasulullah dan menerapkan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, makna utama Maulid Nabi bukan hanya mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menghidupkan kembali keteladanan beliau dalam kehidupan umat. Nilai kejujuran, kasih sayang, kesabaran, keadilan dan kepedulian menjadi bagian penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Maulid Nabi 2026 tanggal berapa? Ini jadwal dan hari liburnya

Baca juga: Daftar tanggal merah Agustus 2026: Ada HUT RI dan Maulid Nabi

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.