Minggu, 13 September 2026 19:00 WIB
Masyarakat adat dari berbagai daerah di Pulau Jawa menggelar doa bersama untuk keselamatan Indonesia dalam kegiatan "Ngramat Sang Hyang Wudel 2026" di lereng selatan Gunung Slamet, Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (13/9/2026). ANTARA/Sumarwoto
Banyumas (ANTARA) - Masyarakat adat dan pegiat lingkungan dari berbagai daerah memanjatkan doa bersama untuk keselamatan Indonesia dalam kegiatan "Ngramat Sang Hyang Wudel 2026" di lereng selatan Gunung Slamet, Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu.
Kegiatan yang mengusung tema “Wisya Mitra-Bersahabat dengan Alam” tersebut, melibatkan masyarakat adat dan pegiat lingkungan dari lima kabupaten di sekitar Gunung Slamet, yakni Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes, serta perwakilan masyarakat adat dari sejumlah wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Koordinator Penyelenggara Kegiatan Bambang Barata Aji mengatakan doa bersama menjadi bagian dari ekspresi budaya dan syukur kepada Tuhan atas kehidupan yang diberikan melalui alam, khususnya Gunung Slamet yang menjadi sumber mata air dan penopang kehidupan masyarakat.
"Kami masyarakat tetap berupaya dan berdoa supaya negara ini aman, tenteram, damai, dan sejahtera. Apalagi kegiatan ini dilaksanakan di Gunung Slamet, mudah-mudahan negara juga selamat," katanya.
Selain doa bersama, kata dia, kegiatan tersebut juga mengangkat pesan konservasi melalui pemaknaan istilah "Ngramat" yang berasal dari "ngerumat" dan "ngerawat", yakni merawat dan memelihara Gunung Slamet sebagai sesuatu yang mulia dan harus dijaga.
Ia mengatakan pesan tersebut penting untuk mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang merusak ekosistem Gunung Slamet, termasuk praktik pertanian yang mengabaikan kelestarian lingkungan.
Ia juga mengajak masyarakat menerapkan "ilmu titen", yakni memperhatikan dan membaca gejala alam, terutama di tengah kekeringan panjang dan meningkatnya aktivitas sejumlah gunung api.
"Kita perlu membaca gejala alam dan menjaga keseimbangan ekosistem. Ini merupakan ekspresi syukur dan terima kasih melalui pendekatan budaya," katanya.
Ia mengatakan dalam kegiatan tersebut dilakukan "Tirtakrama", yakni pencampuran air dari sejumlah sumber sebagai simbol penyatuan aliran air dan persaudaraan antar-masyarakat.
"Ketika kita satukan aliran-aliran air itu, mudah-mudahan persaudaraan kita juga mengalir," katanya.
Bambang mengatakan peserta juga melakukan pelepasan burung, penanaman pohon, dan penebaran ikan lokal di Kali Pelus sebagai simbol konservasi udara, tanah, dan air.
Dalam acara, tokoh masyarakat adat Sunda, Jawa Barat, Akiat Ginanjar Akil atau Kang Gin Gin menceritakan pengalaman menggelar kegiatan "Ngertakeun Bumi Lamba" di Gunung Tangkuban Perahu.
Ia mengatakan gerakan tersebut berkembang sejak tahun 2000-an ketika sejumlah kalangan, terutama generasi muda, mulai mendalami nilai-nilai budaya dan mendatangi berbagai tempat yang dianggap memiliki nilai kesakralan.
“Menjaga gunung merupakan amanah yang berlaku untuk seluruh gunung, bukan hanya gunung tertentu,” katanya.
Ia juga menjelaskan konsep "tali paranti" sebagai sarana menjaga gunung sekaligus menghormati leluhur melalui peranti keras maupun nilai-nilai yang diwariskan.
Ia menekankan kegiatan merawat alam harus dilakukan secara konsisten setiap tahun, terlepas dari jumlah orang yang hadir.
Kang Gin Gin mengapresiasi pertemuan lintas komunitas tersebut dan mengajak seluruh pihak terus merawat bumi, menjaga alam, serta menghormati leluhur demi keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.

Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.