REPUBLIKA.CO.ID, PONOROGO — Pondok Modern Darussalam Gontor mulai mengarahkan langkah menuju penguatan jejaring internasional dan diplomasi peradaban saat memasuki abad kedua. Gagasan “Globalising Gontor” mengemuka sebagai upaya memperluas kontribusi pesantren melalui pendidikan, keilmuan, diplomasi keagamaan, dan dialog antarperadaban tanpa meninggalkan identitas serta nilai-nilai dasarnya.
Gagasan itu mendapat perhatian dalam pertemuan akademik di Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor), Rabu (10/9/2026). Imam Mohammad Bashar Arafat, Presiden Islamic Affairs Council of Maryland sekaligus pendiri Civilizations Exchange and Cooperation Foundation (CECF) Amerika Serikat, hadir membagikan pandangannya mengenai hubungan Islam, pendidikan, peradaban, dan jejaring global.
Dalam forum yang berlangsung di hall senat UNIDA Gontor tersebut, Arafat berbicara di hadapan dosen dan mahasiswa, khususnya dari program studi hubungan internasional dan studi agama-agama. Ia menekankan bahwa pengabdian umat Islam tidak semestinya berhenti pada kepentingan komunitas Muslim, melainkan juga harus memberi manfaat kepada manusia secara luas.
Semangat tersebut menjadi salah satu pijakan dalam membaca arah Gontor setelah melewati usia satu abad. Globalisasi Gontor tidak hanya dimaknai sebagai membawa nama pondok ke berbagai negara, tetapi terutama menghadirkan nilai dan kontribusi Gontor dalam percaturan pendidikan, ilmu pengetahuan, diplomasi, dan peradaban dunia.
Selama satu abad, Gontor membangun tradisi pendidikan yang memadukan iman, ilmu, akhlak, kedisiplinan, kemandirian, kesederhanaan, dan pengabdian. Nilai-nilai tersebut dinilai mempunyai relevansi universal dan dapat dibawa para alumni ke berbagai lingkungan tempat mereka mengabdi.
Jejak global itu dalam kenyataannya telah berlangsung melalui alumni Gontor yang tersebar di berbagai negara. Dengan demikian, ukuran keterhubungan Gontor dengan dunia tidak hanya terletak pada banyaknya kerja sama internasional, tetapi juga pada sejauh mana nilai pendidikan yang dibentuk di pondok mampu memberikan manfaat di tengah masyarakat yang berbeda.
Pengalaman CECF menjadi salah satu contoh bagaimana jejaring internasional dapat dikembangkan melalui diplomasi berbasis agama dan peradaban. Sehari sebelum berkunjung ke Gontor, CECF menjalin kerja sama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam penguatan religious diplomacy dan jejaring akademik internasional.
Menurut Arafat, CECF telah melibatkan pemuda dan akademisi dari lebih dari 80 negara dalam sejumlah program diplomasi keagamaan. Pengalaman tersebut memperlihatkan ruang besar yang dapat dimainkan lembaga pendidikan Islam dalam mempertemukan masyarakat dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda.
Dalam konteks itu, diplomasi tidak lagi hanya menjadi wilayah politik dan ekonomi. Pendidikan, agama, dan kebudayaan dapat menjadi pintu untuk membangun dialog, memperluas kerja sama, dan memperkuat hubungan antarmasyarakat.
UNIDA Gontor memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Sebagai perguruan tinggi yang tumbuh dari sistem pendidikan Gontor, universitas ini dapat menerjemahkan nilai-nilai pesantren ke dalam bahasa akademik dan pergaulan global.
Internasionalisasi perguruan tinggi karena itu tidak cukup diwujudkan melalui konferensi, pertukaran mahasiswa, kunjungan akademik, atau penandatanganan kerja sama. Seluruh instrumen tersebut diharapkan bermuara pada pertukaran ilmu dan gagasan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.