Jakarta -
Xbox sedang dalam kondisi yang tidak pasti dan mengalami krisis identitas. Mantan Bos Sony, Shawn Layden, pun memberikan saran atas masalah yang terjadi di perusahaan tersebut.
Awalnya, Xbox sangat fokus pada game eksklusif dengan mempertahankan judul-judul seperti Halo, Gears of War, dan Forza, sembari membeli sejumlah studio untuk memperkuat jajaran game pihak pertamanya. Kemudian, mereka memutuskan bahwa ini mungkin bukan cara terbaik untuk menghasilkan uang dan mulai merilis game-game terbesar mereka di PlayStation, dengan tingkat kesuksesan yang bervariasi.
Layden mengkritik raksasa video game itu dengan mengatakan, bahwa orang-orang yang bertanggung jawab atas keterpurukan ini punya kesalahpahaman mendasar, tentang bagaimana dunia hiburan bergerak. Menurutnya, Xbox harus membuat pilihan mengenai apa yang diinginkan mereka di masa depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada dua jalan. Menjadi pesaing platform yang kompetitif di pasar bersama PlayStation, atau menjadi penerbit game terbesar di dunia, yang berdasarkan semua akuisisi mereka, mereka sudah berada di sana atau sangat dekat dengan posisi itu," jelas Layden, dilansir The Gamer, Senin (13/7/2026).
Sayangnya, Layden berpendapat bahwa keputusan yang diambil Xbox tidak berjalan dengan baik. Dirinya mengatakan kedua jalan itu pasti berpisah, karena untuk menjadi platform yang sukses, mendapat dukungan dari penggemar, dan laris membutuhkan konten eksklusif.
"Nintendo membutuhkan Mario dan Zelda-nya, dan PlayStation membutuhkan Crash Bandicoot dan Astro Bot, serta Kratos dan Horizon, semua itu. Tetapi jika Anda ingin menjadi penerbit terbesar di dunia, yang bukan ambisi yang buruk, Anda harus menghadirkan konten Anda di setiap platform," tegasnya.
Salah satu contoh kegagalan yang sekarang Xbox rasakan ialah jumlah pelanggan Game Pass tidak mencapai target. Selama akuisisi Xbox terhadap Activision Blizzard, diperkirakan bahwa 77 juta orang akan mendaftar ke Game Pass hingga saat ini. Tentunya angka tersebut sangat mencengangkan dan praktikanya tidak berjalan mulus sesuai keinginan.
Jangankan untuk mendekati, berdasarkan data, ini jauh di bawah ekspektasi Xbox. Setidaknya di bawah 40% dari target tinggi yang mereka tetapkan. Bahkan, jika 30 juta pelanggan yang dilaporkan Wall Street Journal akurat, total sebenarnya telah menurun sejak terakhir kali Xbox melaporkan angka resminya.
The Gamer sebelumnya melaporkan kalau mereka mendengar jumlah terakhir sekitar 34 juta orang yang berlangganan Game Pass. Itu berarti, telah terjadi penurunan hingga empat juta pelanggan mengacu data Wall Street Journal.
Entah bagaimana nasib Xbox ke depannya, yang pasti mereka sedang melakukan perombakan besar-besaran terhadap karyawannya. Pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di Xbox dan menimpa ribuan karyawan.
(hps/fay)
TAGSLIHAT LAINNYA