Mahasiswa Untag Surabaya raih perunggu di Mandalika Essay VIII - ANTARA News Jawa Timur

calendar_today 14.07.2026 - person  - timer ~

masyarakat setempat tidak perlu mencari pekerjaan ke luar daerah karena potensi wisata yang dimiliki desa dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan

Surabaya (ANTARA) - Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya meraih medali perunggu pada Mandalika Essay Competition (MEC) VIII berkat gagasan pengembangan desa wisata berbasis masyarakat lokal di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

"Gagasan tersebut agar masyarakat setempat tidak perlu mencari pekerjaan ke luar daerah karena potensi wisata yang dimiliki desa dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Ketua Tim Yuniar Dwi Putri di Surabaya, Jawa Timur, Selasa.

Prestasi tersebut diraih pada kompetisi esai tingkat nasional yang diselenggarakan Lembaga Setara Prisma Nusantara (Nusantara Muda) bekerja sama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mataram di Lombok, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu.

Selain Yuniar Dwi Putri, Tim Untag Surabaya beranggotakan Ramadhan Eka Prayoga, Devita Permatasari, Linda Anas Tasya Oktaviani, dan Alvin Syawaludin Mulyono.

Pada babak final kategori Pariwisata dan Kebudayaan, Yuniar dan Ramadhan mewakili tim mempresentasikan karya ilmiah di hadapan dewan juri dan bersaing dengan finalis dari Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, serta Universitas Brawijaya.

Esai berjudul Manggarai Maritim Culture Hub sebagai Model Pariwisata Ekonomi Biru Berbasis Budaya untuk Menekan Kemiskinan dan Kebocoran Ekonomi di Labuan Bajo menawarkan model pengembangan desa wisata yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengelola destinasi wisata, hingga pelestari seni budaya.

Penyusunan esai berlangsung sekitar tiga bulan melalui studi literatur, komunikasi dengan masyarakat dan instansi di Kabupaten Manggarai, serta pendampingan dosen Yuriadi, S.Psi., M.A. Kendala utama yang dihadapi ialah keterbatasan observasi lapangan dan perbedaan bahasa dengan sejumlah narasumber.

"Kami berdiskusi selama berjam-jam bahkan beberapa hari. Semua anggota tentu ingin berangkat karena semuanya terlibat sejak awal. Namun akhirnya kami mengesampingkan keinginan pribadi dan lebih mengutamakan potensi masing-masing anggota tim. Kami memilih dua orang yang paling siap mempresentasikan gagasan di hadapan dewan juri," kata Yuniar.

Pewarta: Willi Irawan
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.