Bagikan:
MUNA – Lukisan cadas berusia sedikitnya 67.800 tahun di Gua Metanduno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, tak lagi sekadar temuan arkeologi. Pemerintah kini mendorong pelindungan kawasan dan menyiapkan langkah menuju pencalonan seni cadas prasejarah Muna sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan hal itu saat membuka Festival Liangkobori IV 2026 di Desa Liangkobori, Muna, Sabtu (11/7).
Dorongan tersebut menguat setelah hasil penelitian yang dipublikasikan pada Januari 2026 menetapkan cap tangan di Gua Metanduno sebagai lukisan cadas tertua di dunia dalam kategori seni nonfiguratif. Usia minimumnya mencapai 67.800 tahun.
“Melalui Festival Liangkobori ini kita membuka kembali salah satu bab penting dalam sejarah manusia. Tidak hanya sejarah Sulawesi atau Indonesia, tetapi juga sejarah dunia,” kata Fadli.
Penelitian itu melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional, Griffith University Australia, Balai Pelestarian Kebudayaan, serta sejumlah peneliti internasional.
Menurut Fadli, temuan tersebut menempatkan Muna pada posisi penting dalam penelitian sejarah awal manusia dan perkembangan seni cadas. Karena itu, pelindungan situs tidak boleh kalah cepat dari upaya memperkenalkannya kepada publik.
Saat meninjau Gua Metanduno, Fadli meminta kawasan prasejarah itu diamankan dan dilestarikan. Pendataan seluruh panel lukisan cadas juga perlu dipercepat melalui dokumentasi digital dan penelitian bersama.
“Ini adalah aset budaya yang harus kita jaga. Temuan ini menunjukkan bahwa puluhan ribu tahun lalu sudah ada kehidupan dan peradaban di kawasan ini,” ujarnya.
Kawasan Liangkobori merupakan bentang karst yang menyimpan ratusan panel lukisan cadas prasejarah. Pemerintah berencana mendorong percepatan penetapan kawasan sebagai cagar budaya nasional, memperkuat riset, serta menyiapkan tahapan pencalonan ke UNESCO.
Namun, pengembangan kawasan tetap harus berpijak pada konservasi dan kajian ilmiah. Masyarakat setempat juga ditempatkan sebagai bagian penting dalam menjaga situs.
Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka menilai Liangkobori memiliki nilai sejarah sekaligus potensi wisata budaya. Menurut dia, pemanfaatan kawasan harus berjalan tanpa mengorbankan kelestarian situs.
Bupati Muna Bachrun mengatakan pemerintah daerah ingin mengembangkan Liangkobori sebagai pusat penelitian, edukasi budaya, dan destinasi wisata berbasis budaya.
Festival Liangkobori sendiri menampilkan seni tradisi, permainan rakyat, pameran budaya, kuliner lokal, serta kegiatan edukasi mengenai kawasan prasejarah Muna.
Bagi Muna, temuan berusia 67.800 tahun itu membawa peluang sekaligus pekerjaan besar. Dunia mungkin mulai menoleh. Tantangannya kini memastikan jejak manusia puluhan ribu tahun tersebut tetap utuh ketika semakin banyak orang datang melihatnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+