Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyampaikan, meski pertumbuhan kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tercatat masih rendah, namun indikator lain yang mengonfirmasi bahwa aktivitas ekonomi masyarakat sebenarnya terus berangsur membaik.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu mengatakan, persepsi perbaikan ekonomi tidak hanya terjadi di level makro seperti stabilitas fiskal, moneter, dan cadangan devisa, melainkan juga diukur dari sektor mikro.
"Tadi kan disebutkan kredit UKM itu tumbuhnya hanya satu persen, 1,6 kalau per Juni ya, atau 0,5 atau per Mei gitu. Kok rendah sekali gitu. Ya, tapi kalau kita bedah lagi sebetulnya masih banyak indikator yang bisa menunjukkan bahwa sektor mikronya juga baik," ujarnya saat ditemui usai rapat dengan Komisi XI di gedung DPR RI Jakarta, Senin (20/7/2026)
Anggito menekankan, data rekening super mikro dan jumlah rekening maupun nominalnya terus naik meskipun peningkatannya cenderung melambat.
"Saya ini kan kita ini pegang super mikro nih, rekening-rekeningnya, jumlah rekening nambah, jumlah rekening per kelompok ini, per kelompok menengah, kelompok atas," ucapnya.
Ia menyebut, untuk simpanan kelompok menengah juga masih mencatatkan pertumbuhan, baik dari sisi jumlah nominal maupun jumlah rekening. Meski ia mengakui ada tren perlambatan kenaikan dalam tiga bulan terakhir secara year-to-date, namun secara tahunan (year-on-year) angkanya tetap naik.
"Jumlah nominal maupun jumlah rekening naik, itu aja. Khususnya year-on-year. Kalau year-to-date memang tiga bulan terakhir itu ada perlambatan, tapi tetap naik. Jadi memang ada aktivitas ekonomi yang berjalan. Yang itu yang pertama," jelasnya.
Ia mencatat, berdasarkan data LPS menunjukkan pertumbuhan paling signifikan terjadi pada simpanan dengan saldo di atas Rp5 miliar.
Anggito menilai tren kenaikan simpanan di berbagai kelompok ini merupakan indikasi bahwa pendapatan masyarakat masih mampu mencukupi kebutuhan konsumsi dan aktivitas ekonomi sekaligus menyisakan ruang untuk menabung.
"Ada transaksi. Artinya kalau saving-nya naik kan berarti konsumsinya naik toh, gitu kan. Kan saving itu bagian dari pendapatan. Pendapatan dikonsumsi, sisanya di-saving. Kalau naik berarti konsumsinya juga ikut naik," sebutnya.
Selain itu, inklusi keuangan, Anggito mengungkapkan bahwa jumlah penduduk yang tidak memiliki rekening bank (unbanked) terus menyusut sekitar dua juta orang setiap tahunnya. Saat ini, diperkirakan hanya tersisa sekitar 15 juta penduduk yang belum memiliki rekening.
"Kan setiap tahun kan saya monitor turun sekitar dua jutaan lah. Sekarang tinggal 15 juta. Berarti kan masyarakat punya rekening ya untuk beraktivitas. Terus rekening yang aktif juga semakin banyak sekarang," ungkapnya.
Peningkatan jumlah rekening aktif ini juga dibarengi dengan tingginya mutasi atau pergerakan rekening untuk keperluan pembayaran (payment) maupun penerimaan. Hal ini, menurut LPS, menjadi bukti sahih bahwa ekonomi di tingkat bawah tetap aktif dan bergerak.
"Jadi itu menunjukkan ekonominya itu aktif bergerak. Perpindahan rekening untuk pembayaran, payment, penerimaan itu naik," ucapnya.
"Nanti kita akan coba dielaborasi lagi aspek mikro dan super mikronya lah. Itu adalah movement atau mutasi-mutasi rekening. Rekening-rekening yang aktif itu juga semakin banyak dan rekening yang tidak aktif itu semakin sedikit," pungkasnya.
(fsd/fsd)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]