ILUSTRASI. LPS memprediksi suku bunga simpanan masih akan tinggi di tengah tingginya kebutuhan likuiditas perbankan. ?(KONTAN/Muradi)
Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memprediksi suku bunga simpanan masih akan tinggi di tengah tingginya kebutuhan likuiditas perbankan.
Laporan LPS menyebutkan, hingga Juli 2026 suku bunga simpanan rupiah secara industri masih dalam tren meningkat, dengan catatan kenaikan sebesar 21 bps ke level 4,12%.
Hal itu disebut sebagai dampak berlanjutnya transmisi kebijakan moneter serta meningkatnya persaingan penghimpunan dana perbankan.
Baca Juga: Dana Pensiun Borong SRBI, Investasinya Melonjak 132% Jadi Rp18,52 Triliun
Jika dibedah dari kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI), kenaikan suku bunga simpanan terjadi di seluruh kategori.
Yang mana, suku bunga simpanan KBMI 1 tercatat naik 13 bps ke level 4,07%, suku bunga simpanan KBMI 2 naik 25 bps menjadi 4,26%, suku bunga simpanan KBMI 3 naik 41 bps ke 4,29%, dan suku bunga simpanan KBMI 4 naik 24 bps ke level 3,2%.
LPS menilai, pola kenaikan saat ini menunjukkan bahwa transmisi kenaikan suku bunga kebijakan mulai berdampak ke sisi simpanan perbankan. “Walau intensitasnya berbeda antar KBMI,” demikian jelas LPS dikutip Selasa (8/9/2026).
Di sisi lain, rata-rata suku bunga simpanan valas industri turun terbatas sebesar 2 bps, meski masih cenderung stabil pada level yang relatif tinggi.
LPS menyebut kondisi ini dipengaruhi strategi suku bunga valas pada bank tertentu yang cenderung tetap tinggi, sehingga mendorong kenaikan suku bunga secara bertahap di tengah persaingan penghimpunan dana valas dan stance kebijakan suku bunga acuan global yang high for longer.
Baca Juga: OJK Susun Rancangan Peraturan tentang Laporan Keuangan Berkala Penjaminan
Ke depan, LPS memperkirakan suku bunga simpanan rupiah masih bakal ada di level relatif tinggi dengan ruang penyesuaian yang berbeda antarbank. Nantinya, itu bakal sejalan dengan kebutuhan likuiditas serta strategi dan kompetisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).
Di sisi lain, akselerasi kredit yang lebih tinggi ketimbang pertumbuhan DPK disebut juga berpotensi membuat kompetisi penghimpunan dana tetap ketat, yang pada gilirannya mendorong biaya dana (cost of fund), utamanya pada bank dengan likuiditas terbatas.
Pun untuk simpanan valas, LPS memprediksi tingkat suku bunga tetap relatif tinggi ke depannya, sejalan dengan stance suku bunga global, serta dengan berbagai pertimbangan lainnya, termasuk perkembangan nilai tukar rupiah, kebutuhan pendanaan valas domestik, dan level suku bunga serta dinamika suku bunga valas antarbank.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News