Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengajak investor menjadikan Indonesia sebagai lokasi pembangunan pusat data (data center). Hal ini akan di dukung dengan potensi energi yang melimpah, termasuk potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Sungai Mamberamo di Papua sebesar sekitar 23 gigawatt (GW) dan Sungai Kayan di Kalimantan sekitar 12 GW.
Bahlil menyampaikan bahwa kebutuhan energi di sejumlah negara mulai menghadapi tekanan, terutama seiring meningkatnya kebutuhan energi baru terbarukan (EBT) untuk mendukung perkembangan industri digital. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi peluang bagi Indonesia untuk menawarkan sumber energi yang tersedia di dalam negeri.
"Kita tahu bahwa di beberapa negara sekarang kebutuhan terhadap energi sudah mulai ngos-ngosan, apalagi energi baru terbarukan. Data center, wah, ini banyak sekali. Bapak-Ibu semua, tidak perlu ragu para investor kalau membangun data center di Indonesia," ujar Bahlil dalam acara Electricity Connect 2026 in Partnership with Enlit Asia di ICE BSD, dikutip Rabu (23/9/2026).
Untuk mendukung itu, Indonesia sejatinya memiliki wilayah kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau serta sumber energi yang beragam, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, hingga angin.
"Ada yang membangun di Kalimantan, ada yang membangun di Sumatera. Kalau ada yang mau air, PLTA di Papua, Sungai Mamberamo itu potensinya 23 gigawatt. Kalau di Kalimantan, di Kayan, kurang lebih sekitar 12 gigawatt. Banyak sekali," katanya.
Menurut Bahlil, ketersediaan energi bersih menjadi salah satu faktor penting bagi industri data center yang semakin membutuhkan penggunaan energi hijau. Pemerintah juga menyampaikan komitmen untuk terus mengejar target net zero emission pada 2050-2060.
Komitmen tersebut, kata Bahlil, diwujudkan melalui sejumlah program, termasuk RUPTL 2025-2034 yang menargetkan tambahan pembangkit sebesar 69,5 GW, dengan 70% di antaranya berasal dari energi baru terbarukan (EBT). Pemerintah juga menjalankan program PLTS 100 GW yang ditargetkan rampung dalam tiga tahun.
"Ini bukan hanya tema, langsung dibuat program konkret," tegas Bahlil.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]