Bandung (ANTARA) - Ketua DPRD Jawa Barat Buky Wibawa Karya Guna mendorong penguatan sistem pengolahan sampah sebagai solusi menghadapi keterbatasan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat.
Buky dalam keterangan yang diterima di Bandung, Rabu, menilai persoalan sampah di Jawa Barat tidak semestinya diselesaikan dengan memperluas TPA, tetapi melalui peningkatan kapasitas pengolahan dari hulu hingga hilir.
Kondisi Sarimukti saat ini dinilai semakin mendesak karena berdasarkan evaluasi Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, kapasitas TPA tersebut diperkirakan hanya mampu bertahan hingga Oktober 2026.
Sementara itu, volume sampah yang masuk ke Sarimukti saat ini mencapai sekitar 1.700 ton per hari, lebih tinggi dari target pembatasan yang sebelumnya dirancang sekitar 1.400 hingga 1.500 ton per hari.
“Saya juga tidak setuju kalau Sarimukti diperluas dan sebagainya. Tidak boleh ada toleransi untuk itu, supaya kita semua berpikir menyelesaikan sampah, bukan memperluas tempat pembuangan sampahnya,” katanya.
Berdasarkan pengaturan kuota, Kota Bandung menjadi daerah dengan alokasi terbesar yakni maksimal 981,31 ton per hari, disusul Kabupaten Bandung 280,37 ton, Kota Cimahi 119,16 ton, dan Kabupaten Bandung Barat 119,16 ton per hari.
Buky mengatakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Legok Nangka diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang dikirim ke Sarimukti sekaligus menjadi bagian dari solusi jangka panjang pengelolaan sampah Jawa Barat.
“Diharapkan pembangunan PSEL Legok Nangka ini dapat membantu penyelesaian kuota sampah di Sarimukti juga,” ujarnya.
Selain PSEL, DPRD Jawa Barat juga telah berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Barat mengenai pengadaan mesin pengolah sampah di tingkat kelurahan, sehingga penanganan sampah dapat dilakukan lebih dekat dengan sumbernya.
Sementara itu, Kepala Bidang Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Abdul Wahid Fauzy mengatakan pemilahan sampah dari sumber menjadi faktor penting agar sampah dapat diolah menggunakan teknologi seperti Refuse Derived Fuel (RDF).
“Persoalan terbesar kami di DLH itu adalah ketika pengangkutan pun masih diterima sampah campur. Sebetulnya musuh terbesar kami itu adalah sampah campur,” katanya.
Ia mengatakan pengembangan RDF di Kabupaten Bandung dengan pendampingan Bank Dunia membutuhkan sampah anorganik kering yang telah dipilah sejak dari sumber.
Ia menilai penguatan pemilahan di tingkat masyarakat diperlukan untuk mengurangi beban pengolahan dan pembuangan akhir.
Pewarta: Ilham Nugraha
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.