Laba BNI (BBNI) di Juli 2026 Tertekan Biaya Dana, Analis Pasang Target di Rp 4.800

calendar_today 24.08.2026 - person  - timer ~

ILUSTRASI. Pergerakan Saham BBNI-Suasana pelayanan nasabah di Bank BNI Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada Juli 2026 menghadapi tekanan dari kenaikan biaya dana alias cost of fund (CoF) dan beban operasional. Kondisi tersebut menekan margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) dan laba bersih.

Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas Senin (24/8/2026), BBNI membukukan laba bersih sekitar Rp 1,6 triliun pada Juli 2026. Angka tersebut turun 13% secara bulanan (month on month/mom) dan 6% secara tahunan (year on year/yoy).

Penurunan laba terutama dipicu kenaikan CoF dan beban operasional (opex). Tekanan tersebut hanya sebagian tertahan oleh penurunan biaya pencadangan (provision).

Baca Juga: Laba BNI (BBNI) Tumbuh 5% Jadi Rp 12,52 Triliun Hingga Juli 2026

NIM BBNI turun menjadi 3,4% pada Juli 2026, menyusut 13 basis poin (bps) secara bulanan dan 41 bps secara tahunan.

Penurunan NIM terjadi seiring kenaikan CoF menjadi 3,2%, naik 40 bps secara bulanan dan 11 bps secara tahunan. Kenaikan biaya dana tersebut mengimbangi peningkatan imbal hasil aset produktif (earning asset yield) yang naik 31 bps secara bulanan menjadi 6,6%.

Kondisi ini menunjukkan penyesuaian imbal hasil kredit terhadap kenaikan biaya likuiditas masih tertinggal.

Tekanan terhadap profitabilitas BBNI juga datang dari kenaikan beban operasional. Beban operasional meningkat 20% secara bulanan dan 8% secara tahunan.

Kenaikan tersebut membuat laba operasional sebelum pencadangan alias pre-provision operating profit (PPOP) turun 11% secara bulanan menjadi Rp3 triliun. Namun, secara tahunan PPOP masih tumbuh 12%.

Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) meningkat menjadi 49%, naik 725 bps secara bulanan. Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah 93 bps dibandingkan Juli 2025.

Di sisi lain, penurunan biaya pencadangan memberikan bantalan terhadap laba. Beban pencadangan turun 44% secara bulanan sehingga cost of credit (CoC) turun menjadi 0,8%, atau berkurang 62 bps secara bulanan dan 9 bps secara tahunan.

Simpanan Tumbuh Lebih Cepat dari Kredit

Dari sisi pendanaan, simpanan nasabah BBNI tumbuh 4% secara bulanan dan 29% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit yang mencapai 2% secara bulanan dan 27% secara tahunan.

Baca Juga: Implementasikan PSAK 117, Laba Indonesia Re Melompat Hampir 550%

Total kredit BBNI mencapai sekitar Rp 970 triliun. Pertumbuhan simpanan yang lebih cepat membuat rasio kredit terhadap dana pihak ketiga alias loan to deposit ratio (LDR) turun menjadi 85,5%, atau turun 226 bps secara bulanan dan 125 bps secara tahunan.

Kualitas dana murah juga membaik. Porsi current account saving account (CASA) meningkat 53 bps secara bulanan menjadi 66,4%. Perbaikan tersebut didorong pertumbuhan giro (current account/CA) sebesar 9% secara bulanan, sementara tabungan (saving account/SA) relatif stabil.

Secara kumulatif Januari-Juli 2026, kinerja BBNI masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik.

BBNI membukukan laba bersih Rp 12,5 triliun dalam tujuh bulan di 2026, tumbuh 6% secara tahunan. Realisasi tersebut setara 60% dari proyeksi laba pada tahun 2026 BRI Danareksa Sekuritas dan 59% dari konsensus analis.

Pencapaian tersebut relatif sejalan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika realisasi laba mencapai 59% dari estimasi setahun penuh.

Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh 14% secara tahunan menjadi Rp25,3 triliun, ditopang pertumbuhan kredit yang kuat sebesar 27% secara tahunan.

Pertumbuhan kredit tersebut terjadi meski NIM turun 23 bps secara tahunan menjadi 3,6%. Penurunan NIM terutama disebabkan imbal hasil aset produktif yang turun 29 bps menjadi 6,4%.

Sementara itu, CoF secara kumulatif justru turun 21 bps secara tahunan menjadi 2,8%.

Baca Juga: Mandiri Utama Finance Tetapkan DP Mulai dari 10% untuk Pembiayaan Motor Listrik

PPOP masih tumbuh 14% secara tahunan menjadi Rp20,9 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang pendapatan operasional lainnya yang naik 11%, meski sebagian tergerus oleh kenaikan beban operasional sebesar 12%.

Alhasil, CIR berada di level 46,1%, membaik 31 bps dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun, beban pencadangan meningkat 33% secara tahunan menjadi Rp5,4 triliun. Kenaikan tersebut mendorong CoC naik 9 bps menjadi 1%.

Meski meningkat, CoC BBNI masih berada dalam panduan manajemen sebesar 1,0%-1,2%.

CASA Tertekan Lonjakan Deposito Berjangka

Dari sisi struktur pendanaan, porsi CASA BBNI turun menjadi 66%, atau berkurang 464 bps secara tahunan.

Penurunan tersebut terutama disebabkan pertumbuhan deposito berjangka (time deposit/TD) yang mencapai 50% secara tahunan, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan giro yang sebesar 29%.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dalam riset mengatakan, kinerja BBNI pada Juli 2026 berada dalam kategori netral.

Baca Juga: Penyaluran Fintech Lending Tembus Rp105,14 Triliun, Responsible Lending Jadi Sorotan

Tekanan terhadap NIM akibat kenaikan biaya dana serta tingginya beban operasional dinilai cukup untuk mengimbangi pertumbuhan kredit yang kuat dan pendapatan berbasis komisi yang solid.

"Kenaikan CoF perlu dipantau karena telah mencapai level tertinggi sepanjang tahun berjalan dan sudah melampaui level tahun 2025," tulis analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Nataniella Eva Kezia dalam risetnya.

Dengan demikian, meski pertumbuhan kredit dan pendapatan nonbunga masih menopang kinerja BBNI, perkembangan biaya dana akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan ruang pertumbuhan profitabilitas bank ke depan.

Dari riset terakhir, Victor memberi rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 4.800 per saham. Per Senin (24/8/2026) harga saham BBNI hingga pukul 15.23 WIB turun 1,61% di Rp 3.670 per saham. Sedangkan dalam lima hari saham BBNI naik 1,1%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News