KPDI 17 hasilkan rekomendasi untuk transformasi perpustakaan di era AI

calendar_today 05.08.2026 - person  - timer ~

Jakarta (ANTARA) - Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 yang diselenggarakan Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menghasilkan lima rekomendasi strategis untuk memperkuat transformasi perpustakaan digital di era akal imitasi (AI).

Rekomendasi tersebut merupakan hasil pemikiran para pustakawan, akademisi, peneliti, praktisi teknologi informasi, serta berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan arah pengembangan perpustakaan digital Indonesia yang adaptif terhadap kemajuan teknologi dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

Wakil Ketua FPDI Ida Fajar Priyanto dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengemukakan, perkembangan AI harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan sekaligus memperkuat ekosistem pengetahuan nasional yang inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan.

"Rekomendasi pertama menegaskan bahwa kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pengetahuan dan membantu perpustakaan memberikan layanan yang lebih baik, lebih mudah, dan lebih efektif kepada masyarakat. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan mampu memperluas akses informasi sekaligus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan di berbagai sektor," katanya.

Baca juga: TPBIS jangkau jutaan masyarakat ubah cara pandang soal perpustakaan

Kedua, konferensi merekomendasikan penguatan intellectual humanity sebagai pusat ekosistem literasi informasi agar perkembangan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Pendekatan ini dinilai penting agar pemanfaatan AI tidak menggeser peran manusia, tetapi menjadi instrumen yang memperkuat kemampuan berpikir kritis, etika, dan tanggung jawab dalam mengelola pengetahuan.

Ketiga, pustakawan didorong membangun berbagai aplikasi berbasis AI yang mampu mendukung pembentukan pengetahuan baru sekaligus melestarikan pengetahuan yang telah ada, maupun yang terus berkembang. Inovasi tersebut diharapkan mampu memperkuat fungsi perpustakaan sebagai pusat pengelolaan pengetahuan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

Keempat, perpustakaan perlu mengantisipasi perubahan perilaku masyarakat dalam budaya informasi sehingga pemanfaatan teknologi informasi mampu meningkatkan produktivitas dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Transformasi layanan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar perpustakaan tetap relevan sebagai ruang belajar, pusat literasi, sekaligus mitra masyarakat dalam menghadapi perubahan ekosistem informasi.

Rekomendasi kelima menegaskan bahwa transformasi perpustakaan harus memberikan manfaat yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Perkembangan teknologi informasi harus mampu memperluas akses pengetahuan tanpa meninggalkan kelompok masyarakat yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan.

Baca juga: Pemerintah hadirkan perpustakaan kebudayaan hidupkan literasi budaya

"Perpustakaan harus bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi informasi, termasuk kecerdasan buatan, agar berdampak pada masyarakat, termasuk kelompok minoritas, penyandang disabilitas, masyarakat yang belum memiliki akses informasi, serta lanjut usia," kata Ida Fajar.

Sementara Ketua FPDI Joko Santoso menegaskan, perkembangan AI harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan ekosistem informasi sehingga teknologi benar-benar menghadirkan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

"Transformasi perpustakaan digital harus tetap berpusat pada manusia dan tidak boleh hanya berorientasi pada perkembangan teknologi informasi maupun kecerdasan buatan, tetapi harus tetap memberikan manfaat nyata bagi manusia," ucap Joko.

Menurut dia, implementasi AI harus selalu diimbangi dengan nilai-nilai kemanusiaan sehingga teknologi tidak hanya menghasilkan informasi dan rekomendasi, tetapi juga digunakan secara bijaksana, etis, dan bertanggung jawab.

Baca juga: Perpustakaan jadi penjaga informasi kredibel di era akal imitasi

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.