Jakarta (ANTARA) - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut bahwa sedikitnya ada dua anak yang meninggal di lokasi pengungsian pascabencana gempa di sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Pilunya, beberapa anak meninggal di pengungsian. Sampai hari ini, yang meninggal dunia yang terpantau kami, ada dua anak," kata Anggota KPAI Diyah Puspitarini saat dihubungi di Jakarta, Minggu.
Menurut dia, kedua anak meninggal dunia karena sakit.
"Sakit dan diperparah dengan kondisi di pengungsian," kata Diyah Puspitarini.
Baca juga: Pentingnya langkah konkrit lintas sektor stop perkawinan anak
Pihaknya meminta pemerintah dan para pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah untuk memberikan perhatian khusus kepada anak dengan kerentanan berlapis, termasuk anak penyandang disabilitas, anak yang kehilangan orang tua, anak yang terpisah dari keluarga, anak yang sakit, bayi dan balita, serta anak yang membutuhkan perlindungan khusus lainnya.
Upaya ini penting karena, menurut dia, penanganan bencana tidak cukup hanya memastikan anak selamat secara fisik. Menurut dia, negara juga harus memastikan anak aman, tetap berada dalam pengasuhan yang layak, memperoleh layanan dasar, terlindungi dari kekerasan, dan mendapatkan kesempatan untuk pulih secara fisik maupun psikologis.
Baca juga: KPAI menekankan pada peran keluarga dan negara lindungi anak di era digital
KPAI mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pemenuhan hak anak dalam penanganan bencana di NTT.
"Evaluasi tersebut perlu mencakup pendataan anak, mekanisme pengasuhan, layanan kesehatan dan psikososial, pendidikan, keamanan tempat pengungsian, serta mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak," kata Diyah Puspitarini.
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026