Koleksi Toton 2027, ‘Kala’ Menjadi Nasionalis di Tengah Ketidakadilan

calendar_today 12.07.2026 - person  - timer ~

Jakarta -

Situasi di Indonesia yang penuh dengan gejolak dan ketidakadilan mengusik benak Toton Januar. Sang desainer mode ini lantas meresponsnya dengan karya yang berkelanjutan, 'nasionalis', sekaligus personal dalam peragaan bertajuk 'Kala'.

Ketika pemerintah tidak berpihak kepada yang lemah, kelompok minoritas yang termarjinalkan, rasanya sulit untuk menjadi pribadi yang loyal terhadap bangsa.

"Aku ini bagian dari ancaman nasional nonmiliter," ujar Toton berseloroh jelang peragaannya yang digelar di Hotel Mulia Jakarta, Jumat (10/7/2026) malam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Toton Januar mempersembahkan koleksi Toton 2027 'Kala' di Mulia in Fashion 2026.Toton Januar mempersembahkan koleksi Toton 2027 'Kala' di Mulia in Fashion 2026. Foto: Dok. Toton

Baru-baru ini ramai dibahas kembali Peraturan Presiden (Pepres) tentang ancaman nonmiliter yang salah satunya mencakup 'penyebaran budaya LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender)'. Tak hanya diskriminatif, kebijakan tersebut juga dinilai sebagai pengalihan isu terhadap masalah negara yang lebih substantif (korupsi di jajaran penegak hukum dan keterpurukan ekonomi misalnya).

"Segitu absurdnya pemerintah ini, kita semua bergejolak, ingin menjerit dan berteriak. Beruntung saya punya outlet lewat merancang busana," tutur Toton yang mendirikan labelnya pada 2012.

Keresahan itu kemudian disalurkan lewat 48 set busana atau looks yang hampir keseluruhan dibuat dengan memanfaatkan material daur ulang (recycle) dan benda lama yang tak dipakai lagi (upcycle).

Toton Januar mempersembahkan koleksi Toton 2027 'Kala' di Mulia in Fashion 2026.Toton Januar mempersembahkan koleksi Toton 2027 'Kala' di Mulia in Fashion 2026. Foto: Dok. Toton

Kisah Batara Kala, sang penguasa waktu dalam mitologi Jawa dan Bali, mendasari filosofi Toton untuk koleksi ini. Waktulah yang menguji manusia, terutama saat melalui masa-masa sulit seperti saat ini. Waktu dapat manusia menjadi pribadi yang baik, atau justru sebaliknya.

Toton menerjemahkanya secara puitis untuk kesekiankalinya dengan mengangkat siluet-siluet busana nasional seperti kebaya dan baju kurung yang didekonstruksi. Hadir pilihan vest yang diadaptasi dari kebaya encim dengan bordiran floral yang menghiasi. Semua terasa harmonis ketika dipadukan dengan berbagai variasi bawahan. Entah itu rok panjang bergelembung, bersusun, berpotongan asimetris, kulot atau pun celana jodphur.

Penataan busana atau styling sekaligus memperkuat formulasi yang belakangan dijunjung Toton setiap kali mendesain sebuah busana.

Toton Januar mempersembahkan koleksi Toton 2027 'Kala' di Mulia in Fashion 2026.Toton Januar mempersembahkan koleksi Toton 2027 'Kala' di Mulia in Fashion 2026. Foto: Dok. Toton

"Setiap pieces, misal kalau buat atasan harus bisa dipakai sama jeans, sementara bawahan harus cocok untuk T-shirt. Sekarang tambah lagi, setiap atasan harus bisa dipakai sama batik atau wastra, bawahan bisa dipakai sama kebaya," kata Toton. Sebuah bentuk nasionalisme lewat berpakaian yang mungkin kita tidak sadari.

Secara kasat mata, busana tampak seperti dibuat dari material baru. Faktanya, seperti diungkapkan Toton, 70-80 persen bahan yang digunakan terbuat dari 'sampah'.

Pemenang kompetisi desain bergengsi International Woolmark Prize Asia ini bekerjasama dengan pemasok benang daur ulang dari Surabaya, Jawa Timur. Diproses dari pencacahan pakaian dan limbah berupa potongan kain, benang yang dihasilkan memiliki tekstur lebih kasar tapi di sisi lain membuat busana lebih berkarakter.

Semakin menarik ketika Toton juga mengaplikasikan taplak-taplak renda bekas tanpa mengubah banyak bentuknya sehingga memberi sentuhan akhir bernuansa rustic sekaligus romantis. Tak banyak yang tahu Toton mulai mengoleksi taplak vintage saat pandemi COVID-19. Hobi baru tersebut menjadi caranya melalui masa-masa sulit kala itu.

Toton Januar mempersembahkan koleksi Toton 2027 'Kala' di Mulia in Fashion 2026.Toton Januar mempersembahkan koleksi Toton 2027 'Kala' di Mulia in Fashion 2026. Foto: Dok. Toton

Sulit untuk tidak mengapresiasi deretan tas yang menemani tampilan para model. Kolaborasi Toton dan By Her membuahkan top-handle bag, dalam siluet tote versi kecil, dengan gagang bambu, yang seperti interpretasi baru tas ikonis Gucci. Dompet mungil untuk koin yang biasa menjadi andalan nenek kini menjadi belt-bag stylish.

Eksplorasi lain mencakup material rumbai yang mengingatkan pada busana adat Papua. Setiap kali busana rumbai Toton muncul, terdengar bunyi sirene dalam komposisi musik pengiring catwalk. Sepertinya, Toton sedang bersolidaritas dengan masyarakat Papua, apalagi menyusul reaksi publik terhadap film dokumenter 'Pesta Babi' yang kontroversial itu.

Sentuhan yang personal memperkuat narasi koleksi Toton. Di jajaran aksesori, ia menyertakan anting dan kalung dengan ornamen figura emas yang menampilkan foto-foto kucing peliharaannya. Rambut model pun ditata menyerupai kuping kucing.

Menutup peragaan yang sekaligus merampungkan rangkaian acara Mulia in Fashion selama empat hari belakangan, Toton menyuguhkan gaun putih dengan aura bridal yang kuat. Belakangan, Toton memang mulai 'membuka diri' untuk menerima pesanan busana pernikahan sebagai caranya bertahan 'in this economy'.

Secara keseluruhan, presentasi terasa megah berkat instalasi megah karya perajin ogoh-ogoh asal Bali, Gusman Surya. Permainan lighting menambah drama, meski terkadang agak redup sehingga busana kurang tersorot jelas.

Sekuen finale diwarnai momen indah tak terduga ketika Kiara Wijaya memapah model lainnya, Zarole, yang tiba-tiba kesulitan berjalan. Inisiatif dan rasa empati Kiara untuk menolong Zarole menggugah rasa haru sampai akhirnya penonton mengapresiasi dengan tepuk tangan.

Toton Januar mempersembahkan koleksi Toton 2027 'Kala' di Mulia in Fashion 2026.Toton Januar mempersembahkan koleksi Toton 2027 'Kala' di Mulia in Fashion 2026. Foto: Dok. Toton

Usai peragaan, reaksi yang muncul lebih beragam. Terdengar pujian, tapi ada pula yang merasa koleksi Toton 2027 ini seperti sebuah antiklimaks dari karyanya di Jakarta Fashion Week tahun lalu saat Dewi Fashion Knight 2025, bahkan dari tiga desainer atau label yang tampil lebih dulu di Mulia.

Terlepas dari itu, keberanian Toton untuk menjadi diri sendiri dan menyuarakan isi hati lewat karya wajib diapresiasi.

(dtg/dtg)