Jumat, 14 Agustus 2026 - 20:20 WIB
VIVA – Puluhan kilogram ikan pernah menjadi teman perjalanan Muhammad Risky Pratama setiap hari. Dengan sepeda, bocah asal Labuhan Deli, Medan, itu mengayuh kendaraan sederhananya menyusuri jalanan untuk menawarkan ikan dagangannya kepada warga.
Baca Juga
Usianya ketika itu baru 9 tahun. Saat anak-anak lain seusianya sibuk dengan seragam, buku pelajaran, dan teman-teman di sekolah, Risky justru sudah terbiasa bekerja. Ia bahkan bisa menempuh jarak puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram (kg) ikan untuk dijual di sekitar Bagan Deli.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bukan karena ia tidak punya keinginan untuk sekolah, tetapi ada alasan lain yang membuat Risky memilih berada di jalan dan meninggalkan bangku pendidikan.
Baca Juga
Risky Memilih Berjualan Ikan demi Nenek
Risky diketahui tinggal bersama neneknya dan seorang adiknya, jauh dari orang tua. Melihat banyaknya hal yang harus ditanggung sang nenek, ia merasa tidak tega hanya berdiam diri.
Baca Juga
Di usia yang masih sangat muda, Risky akhirnya memilih membantu mencari uang. Sekolah pun harus ia tinggalkan.
"Saya mau membantu nenek. Nenek banyak yang mau diurus. Adik saya, cucu nenek, anak nenek. Jadi saya sedih juga. Jadi saya bantu nenek cari uang," tutur Risky, sebagaimana dikutip dari keterangannya, Jumat, 14 Agustus 2026.
Keputusan tersebut membuat keseharian Risky berbeda dari anak-anak seusianya. Sepeda dan ikan menjadi bagian dari rutinitasnya. Ia menghabiskan banyak waktu berkeliling untuk menjajakan dagangan.
Namun, di balik sosoknya yang pendiam, Risky ternyata masih menyimpan satu cita-cita. Ia ingin menjadi tentara. Mimpi tersebut mungkin sempat tertunda ketika ia harus berhenti sekolah, tetapi itu sebenarnya tidak benar-benar hilang.
Dua Hari Dibujuk untuk Kembali Sekolah
Kesempatan untuk kembali mengejar mimpinya datang ketika Nanda, Petugas Penjangkau Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan, mendatangi tempat tinggal Risky.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Nanda mengajak Risky kembali ke sekolah melalui program Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan. Akan tetapi, Risky awalnya tidak langsung menerima ajakan tersebut.
Ia merasa takut harus bertemu dengan banyak orang baru dan berbaur di lingkungan yang belum dikenalnya. Nanda pun tidak menyerah. Selama dua hari, ia terus membujuk Risky agar mau mencoba kembali bersekolah.
Halaman Selanjutnya
"Dua hari dibujuk-bujuk Pak Nanda 'Risky, ayo sekolah Risky'," Risky mengungkapkan.