Kebanyakan film menggunakan narasi waktu berjalan searah. Artinya, tokoh utama memiliki tujuan, menghadapi berbagai rintangan dalam waktu yang terus bergulir, hingga akhirnya mereka—dan juga penonton—sampai pada babak akhir.
Konsep ini dikenal sebagai narasi linier, gaya penceritaan utama dalam dunia sinema selama lebih dari seratus tahun.
Kisah Andy Dufresne menghabiskan waktu tahanan selama puluhan tahun dalam film legendaris The Shawshank Redemption (1994) adalah contohnya. Alur waktu yang linear mengajak kita menyimak proses panjang dan gradual di balik rencananya meloloskan diri dari penjara Shawshank.
Ada alasan mengapa film dengan alur konvensional semacam ini selalu berhasil: ceritanya mudah dipahami.
Lantas, apa jadinya bila garis waktu tersebut dipecah dan film berubah menjadi tumpukan adegan yang terpisah-pisah?
Seperti yang pernah diungkapkan oleh maestro sutradara Prancis, Jean-Luc Godard:
Film memang harus memiliki bagian awal, tengah, dan akhir. Tapi tidak harus disajikan dalam urutan yang sama.
Struktur narasi non-linear sebenarnya telah muncul sejak masa-masa awal sejarah perfilman. Film epik karya sutradara Amerika D.W. Griffith, Intolerance (1916), memotong dan menyelingi empat alur cerita berjarak ribuan tahun dimulai dari era Babilonia kuno, Yudea, Prancis abad ke-16, hingga Amerika Serikat (AS) era modern.
Sementara itu, mahakarya Orson Welles, Citizen Kane (1941), dibuka dengan adegan kematian Kane serta misteri di balik kata terakhirnya (‘Rosebud’). Hingga akhirnya rekam jejak hidupnya dirangkai kembali melalui ingatan-ingatan yang saling bertolak belakang dari orang-orang yang mengenalnya.
Sutradara maestro asal Jepang, Akira Kurosawa, menggunakan pendekatan serupa dalam Rashomon (1950). Ia membedah peristiwa pembunuhan di dalam hutan melalui empat sudut pandang saksi mata yang tidak dapat dipercaya—tanpa pernah memperjelas versi mana yang benar-benar terjadi.
Pada dekade 1960-an, narasi non-linear telah identik dengan sinema non-Hollywood dan perfilman berbahasa non-Inggris.
Teknik-teknik penceritaan seperti analepsis (kilas balik), prolepsis (kilas maju), alur waktu yang saling bersilangan dan melingkar jadi primadona para Sineas Gelombang Baru Prancis.
Film Hiroshima Mon Amour (1959) karya Alain Resnais, misalnya, merajut jalinan asmara masa kini di Hiroshima dengan rekah-rekah ingatan trauma masa perang di Prancis.
Dalam Last Year at Marienbad (1961), Resnais melangkah lebih jauh dengan menyajikan narasi yang begitu membingungkan, hingga para kritikus masih berdebat tentang bagian mana yang murni ingatan, imajinasi, atau kenyataan.
Eksperimentasi semacam ini pada masa itu masih terbatas di ranah sinema arthouse (film seni) dan festival—dipuji oleh para kritikus, tapi umumnya dianggap terlalu berat atau “rumit” bagi penonton bioskop awam.
Tren kembali berganti di era 1990-an. Film Pulp Fiction (1994) karya Quentin Tarantino mengambil struktur non-linear khas sinema arthouse dan mengawinkannya dengan alur cerita genre sensasional yang disukai khalayak luas.
Kisah Tarantino tentang pembunuh bayaran, petinju, dan sebuah koper misterius ini mengacak kronologi tiga cerita yang saling terhubung. Karakter yang perankan John Travolta—yang tewas tertembak di pertengahan film—kembali muncul dalam kondisi hidup di adegan berikutnya, karena penonton diajak menyaksikan titik waktu yang lebih awal dalam alur cerita.
Pulp Fiction membuktikan bahwa penonton arus utama sanggup menikmati struktur narasi non-linear.
Gelombang baru yang dijuluki oleh para akademisi film sebagai film teka-teki pun bermunculan. Dalam genre ini, kenikmatan utama penonton justru terletak pada proses pemecahan alur cerita yang sengaja dikaburkan atau diacak seperti pada Go (1999), 21 Grams (2003), Primer (2004), serta Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004).
Alur berulang dan pengulangan adegan juga dapat dikemas secara komikal, seperti dalam Groundhog Day (1993), atau secara intens dan memicu adrenalin, seperti dalam Run Lola Run (1998).
Sementara itu, dalam film fiksi ilmiah yang lebih mutakhir, Arrival (2016), struktur non-linear bahkan sanggup mengubah keseluruhan makna dari adegan-adegan awal yang telah ditonton.
Mungkin contoh yang paling fenomenal dari semuanya adalah Memento (2000) karya Christopher Nolan yang menyoroti kisah Leonard Shelby, pria pengidap amnesia jangka pendek, saat berjuang melacak pembunuh istrinya.
Nolan merangkai kisah Leonard melalui adegan hitam-putih yang bergerak maju secara kronologis, berselang-seling dengan adegan berwarna yang bergerak mundur—di mana setiap adegan berwarna dimulai tepat di titik akhir adegan berikutnya. Kedua garis waktu ini akhirnya bersimpangan di pertengahan film, bertemu untuk menyingkap tabir misterinya.
Memento mengajak penonton merasakan pengalaman yang serupa dengan gangguan ingatan Leonard—tiba-tiba berada di setiap adegan tanpa tahu pasti bagaimana bisa sampai di sana, lalu dipaksa merangkai kembali konteksnya dari awal, persis seperti yang dialami sang tokoh utama.
Film-film Christopher Nolan berikutnya terus memainkan dimensi waktu secara sangat kreatif, menyingkap informasi pada saat-saat krusial demi memperkuat daya pukau ceritanya.
Inception (2010), Tenet (2020), Oppenheimer (2023), hingga The Odyssey (2026) semuanya memanfaatkan struktur non-linear untuk membangun ketegangan hampir di setiap proses penceritaan.
Di Indonesia, salah satu film yang menggunakan permainan waktu yang sangat kentara, khususnya time loop (pengulangan) adalah Sore (2025) besutan Yandy Laurens.
Mengapa gaya penceritaan semacam ini terus memikat perhatian kita?
Pada era awal, para teoretikus formalisme Rusia membuat pembedaan teoretis antara fabula (urutan kronologis mentah dari peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita) dan syuzhet (urutan serta cara peristiwa-peristiwa tersebut disajikan kepada kita).
Kita menyaksikan film-film seperti Manchester By The Sea (2016), (500) Days of Summer (2009), dan Mulholland Drive (2001) layaknya seorang detektif—merangkai kembali kronologi mentah (fabula) dari sajian cerita yang diacak (syuzhet).
Struktur non-linear cocok untuk mengolah kisah-kisah tentang trauma dan rasa duka. Mengikuti alur kronologi terbalik dalam film Irréversible (2002) karya Gaspar Noé yang menyayat hati memaksa penonton mengetahui akhir kisah yang tragis sebelum memahami penyebabnya—memutarbalikkan hubungan emosional kita terhadap jalan cerita dan plot.
Serial televisi seperti Lost (2004–2010), Westworld (2016–2022), dan True Detective (2014–) membangun seluruh musim penayangannya di atas alur waktu yang diacak atau garis waktu ganda, dan rutin menerapkan struktur tak berurutan yang dipenuhi kilas balik—sebuah pendekatan yang dulunya dianggap eksklusif milik sinema arthouse.
Struktur non-linear dapat menyajikan keindahan visual yang memukau, atau pengalaman kontemplatif yang puitis. Terkadang, pendekatan ini bahkan terasa begitu liar dan tak terduga, membuktikan fleksibilitas tanpa batas di dalam narasi film.