Senin, 24 Agustus 2026 15:44 WIB
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Ma’shum Faqih (ANTARA/HO-PBNU)
Jakarta (ANTARA) - Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’shum Faqih mengajak seluruh elemen NU atau Nahdliyin agar menjaga persatuan, ketenangan, serta menjunjung tinggi adab dan akhlakul karimah menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.
Gus Ma'shum dalam keterangan di Jakarta, Senin mengatakan Muktamar NU harus menjadi momentum memperkuat persaudaraan dan konsolidasi jam’iyah, bukan justru menjadi arena saling menjatuhkan melalui pembentukan opini, fitnah, maupun narasi yang dapat menimbulkan keresahan di tengah warga NU.
"Jangan membuat warga NU resah dengan membangun opini yang menjatuhkan, menyebarkan fitnah, apalagi menggunakan cara-cara yang tidak beradab. Perbedaan pandangan dalam organisasi adalah hal yang biasa, tetapi adab dan akhlak tidak boleh ditinggalkan," katanya.
Anggota Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, ini mengingatkan NU merupakan jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang dibangun para ulama dan kiai dengan landasan khidmah. Karena itu, orientasi utama ber-NU semestinya bukanlah perebutan kekuasaan, posisi, maupun kepentingan politik.
"Kita ini tidak sedang berebut posisi atau jabatan politis. Kita sedang berkhidmah untuk umat. Kalau niat kita benar-benar khidmah, maka tidak perlu saling menjatuhkan, apalagi mengorbankan persaudaraan hanya karena berbeda pilihan atau pandangan," ujarnya.
Gus Ma’shum menegaskan, dinamika menjelang Muktamar merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi sebesar NU. Perbedaan gagasan, pilihan, maupun pandangan tentang masa depan organisasi harus ditempatkan dalam koridor musyawarah dan tradisi pesantren yang mengedepankan penghormatan kepada sesama.
Ia meminta seluruh pihak menahan diri dari penggunaan media sosial sebagai ruang untuk menyerang kehormatan pribadi, menyebarkan tuduhan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, ataupun membangun persepsi negatif terhadap sesama kader dan pengurus NU.
"Silakan berbeda pendapat. Silakan mempunyai pilihan. Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan adab. Jangan karena Muktamar, sesama warga NU kemudian saling mencaci, memfitnah dan menjatuhkan kehormatan satu sama lain," ucap Gus Ma'shum.
Menurutnya, jabatan dalam NU bukanlah hadiah ataupun tujuan akhir perjuangan, melainkan amanah dan ruang pengabdian. Siapa pun yang nantinya mendapat amanah harus dipandang sebagai pihak yang memikul tanggung jawab besar untuk melayani jam’iyah, jamaah, pesantren dan umat.
Gus Ma’shum juga mengingatkan bahwa Muktamar pada akhirnya akan selesai. Kepengurusan akan berganti, tetapi persaudaraan di antara warga NU harus tetap terjaga.
Karena itu, ia berharap seluruh pihak berpikir jauh melampaui kontestasi dan dinamika menjelang Muktamar. Karena itu, ia berharap seluruh pihak berpikir jauh melampaui kontestasi dan dinamika menjelang Muktamar.
Ia mengatakan, kebesaran NU selama satu abad lebih tidak terlepas dari keteladanan para pendiri dan tetua yang mampu menjaga perbedaan dengan ilmu, kebijaksanaan, kesabaran dan akhlak.
Oleh karena itu, Gus Ma’shum mengajak seluruh jajaran NU untuk bersama-sama menjaga suasana yang teduh. Ia juga mengingatkan bahwa dinamika internal NU menjadi perhatian masyarakat luas. Karena itu, setiap kader memiliki tanggung jawab menjaga marwah organisasi yang diwariskan para ulama.
"“Mari kita jaga persatuan. Tetap beradab dan berakhlakul karimah. Jangan mudah terprovokasi, jangan menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, dan jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan saudara sendiri," tutur Ma'shum Faqih.
Pewarta : Sean Filo Muhamad
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026