Keseringan Pakai Laptop di Pangkuan, Kulit Bocah Ini ‘Gosong’

calendar_today 27.09.2026 - person  - timer ~

Jakarta -

Laptop biasanya tidak menghasilkan panas yang cukup tinggi untuk langsung membakar kulit. Namun, jika ditempelkan ke tubuh selama berjam-jam dan dilakukan berulang kali, panas rendah dari perangkat ternyata bisa menyebabkan masalah kulit.

Hal tersebut terungkap dari kasus seorang anak laki-laki di Inggris yang mengalami perubahan kulit pada bagian perut dan paha akibat terbiasa menggunakan laptop dalam waktu lama. Kasusnya dilaporkan oleh dua dokter dari University Hospitals of Leicester NHS Trust dalam jurnal BMJ Case Reports.

Anak tersebut mengalami bercak kemerahan dan kecokelatan pada perut dengan pola menyerupai jaring. Area tersebut awalnya berukuran sekitar 15 cm dan tidak terasa sakit maupun hangat ketika disentuh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter sempat mengira tanda tersebut merupakan memar atau akibat cedera. Pemeriksaan lanjutan, termasuk CT scan, tidak menemukan cedera internal yang dapat menjelaskan kondisi kulit tersebut.

Dua minggu kemudian, anak tersebut kembali ke rumah sakit. Kali ini bercak pada kulitnya semakin besar dan gelap, terasa lebih nyeri, serta mulai menunjukkan kerusakan kulit. Dokter kemudian menggali lebih jauh kebiasaan sehari-harinya. Saat itulah diketahui bahwa anak tersebut menjalani homeschooling dan menggunakan laptop untuk kegiatan belajar.

Ia mengaku biasa memangku bahkan meletakkan laptop langsung di atas perut ketika belajar hingga delapan jam sehari. Laptop tersebut juga sering digunakan dalam kondisi sedang mengisi daya.

"Ia melaporkan meletakkan laptop di atas perutnya hingga delapan jam setiap hari, sering kali saat sedang mengisi daya," kata dokter yang menangani bocah tersebut seperti dikutip dari Ars Technica.

Keterangan itu akhirnya membantu dokter menemukan penyebab bercak kulit yang sebelumnya misterius. Dokter mendiagnosis anak tersebut mengalami erythema ab igne (EAI), kondisi kulit yang dalam bahasa Latin berarti kemerahan akibat api. Kondisi ini juga dikenal dengan istilah 'toasted skin syndrome' atau sindrom kulit terbakar.

EAI terjadi akibat paparan panas rendah secara berulang dan dalam waktu lama. Suhunya tidak cukup tinggi untuk menyebabkan luka bakar secara langsung, tetapi paparan yang terus-menerus dapat merusak pembuluh darah kecil di lapisan permukaan kulit.

Akibatnya, kulit dapat berubah menjadi kemerahan hingga gosong kecokelatan dengan pola khas seperti jaring atau renda. Kondisi ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. EAI secara tradisional dikaitkan dengan penggunaan bantalan pemanas, botol air panas, pemanas ruangan, hingga paparan panas dalam pekerjaan tertentu. Namun, penggunaan perangkat elektronik membuat sumber panas baru mulai mendapat perhatian.

"Meningkatnya penggunaan perangkat elektronik, terutama selama homeschooling, telah muncul sebagai penyebab EAI yang kurang dikenali pada anak-anak," kata para peneliti.

Salah satu hal yang membuat kondisi ini mudah terlewat adalah panas yang memicunya tidak harus terasa seperti panas yang membakar. EAI justru berkaitan dengan paparan panas rendah dalam waktu lama. Karena itu, seseorang mungkin tidak merasa perlu memindahkan laptop meskipun perangkat tersebut terasa hangat.

Penelitian medis sebelumnya juga mencatat EAI dapat muncul pada pengguna laptop yang menempatkan komputer langsung di paha dalam waktu lama. Kondisi tersebut biasanya diawali kemerahan, kemudian berkembang menjadi pola kulit yang lebih gelap dan tidak mudah hilang.

Setelah penyebabnya diketahui, anak tersebut diminta menghentikan kebiasaan menempatkan laptop langsung di tubuhnya. Beberapa bulan kemudian, keluarganya melaporkan melalui konsultasi telepon bahwa kondisi kulitnya berangsur membaik hingga bercak tersebut akhirnya menghilang.

Secara umum, EAI dapat membaik setelah sumber panas dihentikan. Namun, pada paparan kronis, perubahan warna kulit dapat bertahan lebih lama. Para penulis laporan juga mengingatkan adanya risiko komplikasi yang jarang terjadi pada kasus yang berlangsung lama.

Karena itu, kebiasaan menggunakan laptop langsung di atas kulit selama berjam-jam sebaiknya dihindari. Meletakkan perangkat di meja atau menggunakan dudukan laptop dapat membantu mengurangi kontak langsung antara sumber panas dan tubuh.

Para dokter juga menekankan pentingnya mengenali EAI pada anak. Dalam kasus yang mereka laporkan, pengenalan kondisi secara lebih awal dapat membantu menghindari salah diagnosis serta pemeriksaan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Kasus ini bukan berarti laptop secara umum berbahaya bagi kulit, melainkan menunjukkan bahwa paparan panas yang berulang dan berlangsung lama pada area tubuh yang sama dapat menimbulkan masalah. Jadi, bukan hanya soal seberapa panas laptop terasa, tetapi juga berapa lama dan seberapa sering panas tersebut mengenai kulit.

(rns/rns)

TAGS

LIHAT LAINNYA