Katerina Sergatskova, Direktur Daily Humanity, organisasi yang memberikan pelatihan kepada orang-orang yang bekerja di lingkungan berisiko tinggi, berada di dalam kereta menuju Warsawa ketika serangan terjadi.
Ia mengatakan para penumpang diminta mengungsi sekitar pukul 09.00 saat kereta mendekati perbatasan Polandia. Sebelumnya, mereka juga sempat diminta turun dan menunggu selama dua jam di tengah malam.
Menurut Sergatskova, situasi berubah ketika perintah evakuasi kembali diberikan. Para penumpang diminta bergerak dengan sangat cepat.
Ia kemudian mendengar suara drone pertama.
“Melihat dan mendengar Shahed hanya beberapa ratus meter dari perbatasan adalah pengalaman yang sangat tidak menyenangkan,” katanya.
Seorang ekonom asal Inggris yang tidak ingin disebutkan namanya juga menyaksikan serangan tersebut. Ia bepergian menggunakan kereta malam dari Kyiv menuju Chelm, Polandia.
“Kami menghabiskan 10 jam di perbatasan dan dievakuasi tiga kali. Pada evakuasi ketiga, sebuah rudal melintas dan menghancurkan lokomotif di depan kereta kami,” ujarnya.
Petugas kereta kemudian mengarahkan penumpang untuk berlindung di semak-semak di dekat sebuah danau. Sang ekonom menyebut respons Ukraina berlangsung tepat waktu dan disiplin.
Para penumpang, katanya, mendapat peringatan yang cukup mengenai evakuasi dan petugas telah memiliki rencana yang kemudian diikuti semua orang.
Sebelum perjalanan dimulai, kondektur juga telah memperingatkan bahwa ada risiko tinggi penumpang harus dievakuasi selama perjalanan.
Salah seorang penumpang di kompartemennya, seorang ibu bersama putranya yang berusia delapan tahun, mengatakan mereka telah bepergian bolak-balik antara Warsawa dan Kyiv setiap bulan sejak 2022. Namun, mereka belum pernah mengalami evakuasi ataupun serangan terhadap kereta selama perjalanan tersebut.
Menurut sang ekonom, kondisi itu menunjukkan adanya eskalasi baru dalam serangan Rusia.