Kenapa telapak tangan sering berkeringat? Ini penyebabnya

calendar_today 03.10.2026 - person  - timer ~

Jakarta (ANTARA) - Secara medis, kondisi telapak tangan basah akibat produksi keringat berlebih dikenal dengan istilah hiperhidrosis palmaris. Ini karena area telapak tangan manusia memiliki kerapatan kelenjar keringat ekrin yang sangat tinggi.

Kelenjar tersebut dikendalikan oleh sistem saraf simpatis, yaitu bagian dari sistem saraf otonom yang mengatur respons tubuh terhadap kondisi lingkungan maupun psikologis. Menurut National Library of Medicine Amerika Serikat, berikut dua kondisi kenapa telapak tangan berkeringat:

1. Hiperhidrosis primer (esensial)

Hiperhidrosis primer terjadi tanpa adanya penyakit dasar yang memicu. Kondisi ini biasanya mulai terlihat sejak masa kanak-kanak atau remaja dan paling sering memengaruhi telapak tangan, telapak kaki, atau ketiak.

  • Aktivitas saraf simpatis berlebih: Saraf simpatis mengirimkan sinyal berlebihan ke kelenjar ekrin di telapak tangan, meskipun tubuh sedang tidak kepanasan atau tidak melakukan aktivitas fisik berat.
  • Faktor genetik: Penelitian medis menunjukkan adanya riwayat keluarga (autosomal dominant) pada mayoritas penderita hiperhidrosis primer.
  • Simetris dan terhenti saat tidur: Keringat berlebih biasanya terjadi secara simetris (kedua tangan) dan umumnya berhenti total saat penderita tidur nyenyak.

Baca juga: Benarkah berkeringat bisa membakar kalori?

2. Hiperhidrosis sekunder

Hiperhidrosis sekunder terjadi akibat kondisi medis mendasar atau efek samping penggunaan obat-obatan. Berbeda dengan jenis primer, hiperhidrosis sekunder sering kali muncul saat usia dewasa dan dapat memicu keringat di seluruh tubuh.

  • Gangguan tiroid (Hipertiroidisme): Produksi hormon tiroid yang berlebihan meningkatkan laju metabolisme basal tubuh dan rangsangan termoregulasi.
  • Faktor hormonal: Perubahan kadar estrogen pada masa menopause atau fluktuasi hormon lainnya.
  • Gangguan metabolisme: Kondisi seperti diabetes melitus (khususnya jika terjadi neuropati perifer).
  • Respon emosional dan stres: Kecemasan, stres, atau rasa takut memicu pelepasan hormon asetilkolin dan adrenalin yang menstimulasi kelenjar keringat dengan cepat.
  • Efek samping obat: Penggunaan obat-obatan tertentu seperti antidepresan atau penanganan hormonal.

Penanganan medis yang umum digunakan
Apabila kondisi ini mengganggu aktivitas sehari-hari, beberapa metode penanganan medis yang dapat dipertimbangkan meliputi:

  • Antiperspiran khusus (topikal): Penggunaan larutan aluminum chloride untuk menyumbat saluran kelenjar keringat sementara.
  • Iontophoresis: Terapi menggunakan arus listrik bervoltase rendah yang dialirkan melalui air untuk memblokir kerja kelenjar keringat.
  • Injeksi botulinum toxin (botox): Memblokir pelepasan asetilkolin yang menyiarkan sinyal dari saraf ke kelenjar keringat.
  • Obat-obatan Antikolinergik: Obat oral untuk menghambat stimulasi sistem saraf pada kelenjar keringat.
  • Surgikal (ETS/Endoscopic Thoracic Sympathectomy): Prosedur pembedahan minimal invasif untuk memotong atau menjepit saraf simpatis yang memicu keringat berlebih.

Baca juga: Kenapa badan bau apek saat terkena panas sinar matahari?

Baca juga: Bolehkah mandi saat berkeringat? Ini penjelasan medisnya

Pewarta: Munifa Husna Haryanti
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.