Kemlu Pastikan Indonesia Berkomitmen Memperkuat Kerja Sama Selatan-Selatan

calendar_today 31.07.2026 - person  - timer ~

Bagikan:

JAKARTA - Indonesia berkomitmen untuk memperdalam dan memperkuat kerja sama pembangunan, sebagai bagian dari Kerja Sama Selatan-Selatan sekaligus bagian dari diplomasi ekonomi, kata Dirjen Hubungan Ekonomi dan Kerja Sama Pembangunan (HEKSP) Kementerian Luar Negeri RI Duta Besar Daniel Tumpal Sumurung Simanjuntak.

Berbicara dalam media gathering pada Hari Kamis di Jakarta, Dubes Tumpal menekankan Indonesia berkomitmen untuk memperkuat kerja sama pembangunan, di tengah tren global yang menunjukkan pengurangan bantuan dan kerja sama pembangunan.

Sebagai bagian dari diplomasi ekonomi, Dubes Tumpal mengatakan penting untuk memperkuat kerja sama pembangunan.

"Seperti yang disampaikan tadi bahwa Indonesia tetap berkomitmen untuk terus memperkuat Kerja Sama Selatan-Selatan," jelas Dubes Tumpal.

"Di tengah berbagai pengurangan kerja sama pembangunan di berbagai negara, Indonesia tetap berkomitmen memperkuat dan melakukan pendalaman seperti ini," katanya.

Kerja Sama Selatan-Selatan merupakan kolaborasi dan pertukaran sumber daya, teknologi, keahlian dan pengetahun di antara negara-negara berkembang.

Menurut Dubes Tumpal, selain untuk meningkatkan kapasitas dan pembangunan negara mitra, kerja sama pembangunan juga bisa menjadi instrumen untuk memperkuat kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.

"Kerja sama pembangunan ini selain memperkuat pembangunan dalam berbagai hal, juga bisa memperkuat kerja sama ekonomi yang sifatnya win-win," terangnya.

Salah satu satu kerja sama pembangunan terbaru yang dilakukan oleh Indonesia adalah peresmian kembali pusat pelatihan pertanian di Gambia sebagai wujud komitmen Jakarta memperkuat ketahanan pangan di kawasan.

Peresmian kembali Agricultural Rural Farmers Training Center (ARFTC) di Jenoi sebagai pusat pelatihan pertanian dan penggerak ketahanan pangan di Afrika Barat dilakukan oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir bersama Menteri Luar Negeri, Kerja Sama Internasional, dan Warga Negara Gambia di Luar Negeri Sering Modou Njie pada 1 Juli lali, di sela-sela rangkaian Sidang Komisi Bersama ke-2 RI–Gambia di Banjul.

Hampir tiga dekade menjadi simbol persahabatan kedua negara, ARFTC kini kembali beroperasi usai direvitalisasi melalui dukungan Pemerintah Indonesia, menandai babak baru kerja sama pembangunan yang berdampak nyata bagi kawasan.

"Peresmian kembali ARFTC bukan sekadar menandai peremajaan infrastruktur. Ini adalah pembaruan komitmen Indonesia untuk terus berjalan bersama Gambia dalam memperkuat ketahanan pangan, membangun kapasitas, dan berbagi pengetahuan yang bermanfaat bagi generasi mendatang," jelas Wamenlu Tata ketika itu.

Diketahui, didirikan pada tahun 1996, ARFTC diinisiasi melalui kerja sama Pemerintah Indonesia, Yayasan Amal Masyarakat Pertanian Indonesia (YAMPI), dan Food and Agriculture Organization (FAO).

Sejak berdiri, ARFTC telah menjadi pusat pelatihan bagi lebih dari 6.000 petani dan penyuluh pertanian dari Gambia maupun berbagai negara Afrika Barat, seperti Guinea, Liberia, Mali, dan Senegal.

BACA JUGA:


"Indonesia tengah menjajaki potensi kolaborasi dengan negara mitra pembangunan lainnya melalui skema Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular untuk menyelenggarakan berbagai pelatihan di bidang pertanian di ARFTC Jenoi bagi negara-negara Afrika,” ungkap Wamenlu Tata.

Revitalisasi ARFTC menegaskan komitmen Indonesia untuk menghadirkan kerja sama pembangunan yang berdampak nyata.

Ke depan, ARFTC diharapkan berkembang sebagai regional centre of excellence yang memperkuat inovasi pertanian, pengembangan sumber daya manusia, dan ketahanan pangan kawasan Afrika Barat.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+