CNN Indonesia
Senin, 17 Agu 2026 08:40 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Delapan puluh satu tahun sudah Indonesia merdeka. Selama itu pula, kata merdeka ikut tumbuh bersama generasi yang berbeda-beda. Bagi mereka yang hidup pada masa penjajahan, merdeka berarti terbebas dari kekuasaan bangsa asing.
Jalan menuju ke sana pun tidak lepas dari peran anak muda. Gagasan kebangsaan tumbuh di kalangan pelajar dan kaum terdidik, salah satunya lewat lahirnya Boedi Oetomo dari lingkungan pelajar STOVIA pada 1908.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bertahun-tahun kemudian, para pemuda Menteng 31 ikut menggembleng diri dan terlibat dalam pergerakan. Menjelang Proklamasi, kelompok pemuda pun tak luput mengambil peran dengan membawa Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok.
Anak muda jadi bagian dari cerita tentang kemerdekaan Indonesia. Lalu, 81 tahun setelah Proklamasi dibacakan, apakah makna merdeka masih sama bagi anak muda hari ini?
CNNIndonesia.com menanyakan pertanyaan tersebut kepada sejumlah gen Z dan gen Alpha. Jawabannya tidak selalu berkaitan dengan penjajahan dalam pengertian yang selama ini dikenal dari buku sejarah.
Pilihan Redaksi
Bagi sebagian Gen Z, merdeka ternyata dimulai dari hal yang paling dekat dengan kehidupan mereka, punya kendali atas hidup sendiri.
Henry (20), mahasiswa dari IPB University, memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan menjalani hidup tanpa tekanan dari orang lain. Bukan hanya soal bebas berbicara, tetapi juga menentukan dengan siapa ingin berteman hingga pilihan-pilihan personal lainnya.
"Ya, bebas. Merdeka itu bebas tanpa tekanan dari siapa pun. Mau berpendapat bebas, bisa menentukan apa yang kita mau tanpa ada paksaan dari orang lain," kata Henry, Kamis (13/8).
Kebebasan tersebut, bagi sebagian Gen Z, juga tidak bisa dipisahkan dari rasa aman. Bima, seorang pekerja media berusia 25 tahun, menyebut bahwa terbebas dari intimidasi sebagai bagian dari kemerdekaan.
"Menurut gue, merdeka itu ya ketika kita bisa bebas dari intimidasi. Jadi, kita bisa ngomong atau melakukan sesuatu tanpa merasa takut karena ada orang yang mengancam atau menekan," ujarnya.
Persoalan itu kemudian membawa pada pertanyaan lain, apakah mereka benar-benar merasa bebas di negaranya sendiri?
Zeta (23), karyawan swasta asal Sukabumi, merasa kemerdekaan hari ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi yang masih dirasakan masyarakat.
"Dulu sih kemerdekaan kaitannya pasti bebas dari para penjajah. Tapi sekarang kemerdekaannya sudah hilang makna karena kita dijajah bangsa sendiri. Enggak merasa bebas di negara sendiri," jelas Zeta.
Kharina (24), gen Z asal Bekasi punya keresahan serupa.
"Bahkan kita sekarang dijajah sama our people, kind of neo-colonialism. Kayak zaman dulu, kan, disebut kolonialisme karena sama orang bule, sekarang bahkan kolonial itu sendiri orang-orang kita," ujar Kharina.
Kharina menggunakan istilah neo-kolonialisme untuk menggambarkan tekanan dan ketimpangan yang justru muncul dari dalam negeri sendiri.
Ada pula cara pandang yang lebih dekat dengan keseharian Gen Z. Bukan soal perang atau perjuangan fisik, melainkan apa yang mereka temui setiap kali membuka ponsel.
Stefani Gloria (22), lulusan baru Fakultas Hukum Universitas Indonesia, sempat melontarkan jawaban yang terdengar seperti keluhan khas pengguna media sosial.
"[Merdeka itu] bisa scroll media sosial tanpa jadi bad mood liat berita-berita negara," celetuk Stefani.
Candaan itu kemudian mengarah pada harapan Stefani soal akses pendidikan dan pengetahuan yang tidak dibatasi kondisi ekonomi.
"Ketika akses terhadap buku dan pendidikan dapat dirasakan secara bebas di Indonesia tanpa lihat kemampuan finansial, salah satunya dengan pemberantasan korupsi dan penghargaan terhadap sistem meritokrasi," tambahnya.
Simak jawaban-jawaban makna kemerdekaan lainnya di halaman berikutnya..
HALAMAN: