Sabtu, 18 Juli 2026 20:29 WIB
Deputi Kewirausahaan, Kementerian UMKM M. Riza Damanik Ph.D memberikan pembekalan kepada para mahasiswa pada Program Wirausaha Muda Mahasiswa (WIBAWA) di Kampus UNS Solo, Jawa Tengah, Sabtu (18/7/2026). ANTARA/Aris Wasita
Solo (ANTARA) - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kementerian UMKM) bersama Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyiapkan 400 wirausaha muda untuk naik kelas melalui penyelenggaraan PRO-KESRA Produktif dalam WIBAWA Grow Day 2026: Berani Mulai, Siap Bertumbuh.
Pada kegiatan yang diselenggarakan di Gedung FKIP UNS Solo, Jawa Tengah, Sabtu, Deputi Kewirausahaan, Kementerian UMKM M. Riza Damanik Ph.D memberikan pembekalan kepada para mahasiswa pada Program Wirausaha Muda Mahasiswa (WIBAWA).
Ia mengatakan kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai forum motivasi, melainkan juga sebagai ruang pembelajaran praktis untuk membantu mahasiswa mengubah minat, ide, dan rintisan usaha menjadi model bisnis yang lebih terarah, teruji, dipercaya pasar, dan siap bertumbuh.
Dalam arahannya, Riza menegaskan penciptaan wirausaha muda merupakan kebutuhan strategis untuk memperluas kesempatan kerja di tengah pertumbuhan
angkatan kerja dan jumlah lulusan perguruan tinggi.
Ia memaparkan Indonesia saat ini memiliki sekitar 154,91 juta angkatan kerja. Sebanyak 147,67 juta orang telah bekerja, sedangkan sekitar 7,24 juta orang masih menganggur.
Pada saat yang sama, perguruan tinggi setiap tahun menghasilkan sekitar 1,47 juta orang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan angkatan kerja dan lulusan baru perlu diimbangi dengan penciptaan kesempatan kerja yang lebih luas.
“Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja. Kampus juga harus menjadi tempat lahirnya inovator, pengusaha, dan pencipta lapangan kerja,” ujar Riza.
Menurutnya, tidak setiap lulusan harus menjadi pengusaha. Namun, setiap lulusan perlu memiliki pola pikir kewirausahaan, yakni peka melihat masalah, berani
mengambil risiko secara terukur, mampu menghadirkan solusi, serta menciptakan nilai bagi masyarakat.
Ia menekankan membangun usaha tidak dapat berhenti pada ide dan semangat. Sebuah gagasan harus diuji ke pasar, produk harus menjawab kebutuhan pelanggan, keuangan harus dicatat secara disiplin, dan kepercayaan harus dibangun secara konsisten.
“Ide yang baik belum tentu menjadi bisnis yang baik. Ide harus diuji, produk harus menjawab kebutuhan, pasar harus dipahami, keuangan harus dicatat, dan usaha harus terus diperbaiki,” tegasnya.
Ia mengatakan WIBAWA Grow Day 2026 disusun untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat lahirnya inovator, pengusaha, dan pencipta lapangan pekerjaan. Sebanyak 400 peserta yang memiliki minat, ide, maupun rintisan usaha dipandang sebagai potensi penting untuk ditumbuhkan menjadi wirausaha yang produktif, inovatif, berdaya saing, dan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Kegiatan ini tidak boleh berhenti sebagai seminar satu hari. Peserta harus pulang membawa ide yang lebih terarah, model usaha yang siap diuji, jejaring yang lebih luas, serta rencana aksi yang dapat segera dijalankan,” katanya.
Menurut dia, kolaborasi Kementerian UMKM dan UNS menjadi contoh bagaimana kebijakan kewirausahaan diterjemahkan menjadi program yang konkret, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan calon wirausaha serta wirausaha pemula.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memiliki keberanian untuk memulai, tetapi juga kesiapan untuk bertumbuh. Mereka perlu memahami pasar, membangun tim, menata keuangan, memanfaatkan teknologi, serta menyiapkan usaha agar dipercaya oleh pelanggan dan lembaga pembiayaan,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi tersebut terus diperkuat melalui pendampingan, inkubasi, business match, akses pembiayaan, perluasan pasar, dan pemantauan perkembangan usaha peserta.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNS Prof. Ir. Dody Ariawan, S.T., M.T., Ph.D. mengatakan komitmen UNS untuk mencetak mahasiswa menjadi wirausaha ini diwujudkan secara nyata melalui program WIBAWA UNS.
“WIBAWA UNS merupakan program inkubasi kewirausahaan inklusif tahap pra-startup / ideation stage untuk mahasiswa aktif UNS yang dilaksanakan secara swadaya dengan memberikan bantuan hibah modal usaha sebesar Rp5 juta hingga Rp15 juta per kelompok,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, program ini telah berhasil memberikan dampak nyata bagi geliat kewirausahaan di lingkungan UNS.
Menurut dia, kebijakan kewirausahaan mahasiswa UNS ini telah bertransformasi dari program bantuan dana yang bersifat ad-hoc menjadi suatu ekosistem pembelajaran kewirausahaan yang terintegrasi, inklusif, dan teregognisi secara akademik.
“Kami sangat menyadari bahwa ekosistem yang kokoh tidak dapat berjalan sendiri. Oleh karena itu, UNS juga aktif menjalin kerja sama dengan berbagai pihak eksternal untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan mahasiswa. Kerja sama strategis yang telah terjalin antara lain dengan BAZNAS RI melalui Program Pemberdayaan Zakat, kemitraan internasional bersama UD Impact Korea Selatan melalui program inovatif MAJU:ON, serta kolaborasi sinergis dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag) melalui program Campuspreneur,” katanya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.