Kupang (ANTARA) - Kementerian Pariwisata bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) memperkuat pemasaran wisata daratan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui perjalanan pengenalan destinasi dan pertemuan bisnis untuk memperluas pasar wisatawan nusantara.
Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Pertama Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata Bayu Erlangga mengatakan kegiatan perjalanan pengenalan destinasi atau familiarization trip (famtrip) tidak hanya bertujuan memperkenalkan objek wisata, tetapi juga mendorong pengembangan pengalaman perjalanan menjadi produk siap dipasarkan.
“Kegiatan ini dirancang bukan sekadar memperkenalkan destinasi, tetapi juga menunjukkan pengalaman yang dapat dinikmati wisatawan dan bagaimana pengalaman tersebut dikembangkan menjadi pola perjalanan yang menarik. Dari sisi pemasaran, potensi yang ada perlu dikemas menjadi produk yang siap dijual dan dipromosikan," katanya dalam keterangan yang diterima di Kupang, Rabu
Kegiatan itu melibatkan enam peserta, terdiri atas tiga perwakilan agen perjalanan dan operator tur, satu perwakilan media, serta dua pemengaruh atau influencer dalam negeri.
Baca juga: BPOLBF: Festival Golo Koe 2026 promosikan pariwisata Flores berkelanjutan
Baca juga: Luas lahan terbakar di Labuan Bajo capai 25 hektare
Rangkaian kegiatan mencakup pertemuan bisnis atau table top business meeting, perjalanan wisata darat Labuan Bajo-Flores, serta aktivitas yoga saat matahari terbenam di kawasan Parapuar.
Bayu mengatakan pengembangan produk wisata yang beragam diharapkan dapat mendorong wisatawan tinggal lebih lama di Labuan Bajo dan Flores, sekaligus memperluas manfaat ekonomi pariwisata bagi masyarakat di berbagai destinasi.
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat Petrus Antonius Rasyid mengatakan pertumbuhan pariwisata Labuan Bajo merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPOLBF, dan pelaku usaha pariwisata.
Ia mengajak pelaku usaha memanfaatkan pertemuan bisnis untuk memperkenalkan produk wisata kepada mitra perjalanan, sehingga potensi destinasi di Flores dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Menurut Petrus, pengembangan pariwisata perlu memperhatikan kualitas pengalaman wisatawan agar mereka tertarik memperpanjang masa tinggal dan membelanjakan uangnya di destinasi yang dikunjungi.
Dikonfirmasi terpisah Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF Andhy MT Marpaung mengatakan pengembangan wisata daratan Flores menjadi peluang untuk memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus memperkuat keterhubungan antardestinasi.
Ia menilai wisata bahari dan wisata daratan Labuan Bajo-Flores perlu dikembangkan secara terpadu agar wisatawan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas selama berada di wilayah tersebut.
“Pengembangan pariwisata Labuan Bajo dan Flores perlu dilakukan secara terintegrasi dengan menghubungkan potensi wisata bahari dan daratan. Keduanya bukan untuk saling menggantikan, melainkan saling melengkapi dalam menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih beragam bagi wisatawan,” ujar Andhy.
Dalam kegiatan table top business meeting, lima pelaku usaha pariwisata mempresentasikan produk dan layanan mereka untuk dijajaki sebagai bagian dari paket perjalanan wisata Labuan Bajo dan Flores.
Kelima pelaku usaha tersebut adalah Mala Nusa, La Main, Desa Wisata Wae Lolos, Mosalaki Phinisi, dan Up & Up Komodo. Pertemuan itu mempertemukan pelaku usaha dengan agen perjalanan untuk membuka peluang kerja sama dan memperluas pemasaran produk wisata.
Selain pertemuan bisnis, peserta famtrip mengunjungi sejumlah destinasi yang menawarkan pengalaman alam, budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat lokal.
Dia berharap upaya itu diharapkan memperluas promosi wisata daratan, meningkatkan daya saing produk perjalanan, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.
Pewarta: Kornelis Kaha
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.