REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendorong PT Kereta Api Indonesia (Persero) meningkatkan kapasitas layanan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang ketika penerbangan terganggu akibat kondisi kahar, termasuk erupsi gunung api.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan Indonesia perlu memiliki moda transportasi alternatif ketika operasional bandara harus dihentikan. Kebutuhan mobilitas masyarakat dan distribusi logistik, menurut dia, tetap harus dapat berjalan meski penerbangan mengalami gangguan.
“Apa yang kita belajar dari kemarin? Yang paling penting itu ketika bandara kita tutup, kita mesti punya alternatif lain,” ucap Dudy saat berbincang dengan awak media di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Dudy mengatakan kebutuhan alternatif transportasi menjadi penting, terutama karena Indonesia memiliki banyak gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat mengganggu operasional penerbangan.
Menurut dia, jaringan transportasi perlu memiliki pilihan rute yang dapat digunakan ketika salah satu jalur mengalami gangguan.
“Ini kan Jawa gunung apinya banyak, kita harus punya alternatif, mau jalur utara, jalur tengah, jalur selatan, ketika salah satu tidak berfungsi, yang lain masih bisa jalan,” kata Dudy.
Dalam kondisi penerbangan terganggu, Dudy menilai perkeretaapian dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengakomodasi kebutuhan perjalanan masyarakat. Kemenhub, kata dia, telah menyiapkan opsi pengalihan perjalanan udara yang dilanjutkan menggunakan kereta api.
“Kita harus langsung beradaptasi dengan kondisi yang terjadi. Kita tawarkan kalau memang penting sekali untuk bepergian, kita sudah siapkan pengalihan penerbangan yang terkoneksi dengan kereta api,” ujarnya.
Namun, pengalaman ketika terjadi gangguan penerbangan sebelumnya menunjukkan kapasitas kereta api juga perlu diperkuat. Dudy mengatakan layanan kereta sempat mengalami lonjakan permintaan hingga kapasitas yang tersedia penuh.
“Kemarin kereta penuh. Tambah layanan itu berarti kita harus headway-nya di perlintasannya, supaya jumlah frekuensinya bisa kita tambah,” kata Dudy.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono mengatakan KAI perlu meningkatkan investasi untuk memperbesar kapasitas layanan. Menurut dia, penambahan sarana menjadi penting agar kereta api tidak hanya menjadi alternatif transportasi di atas kertas, tetapi benar-benar mampu menampung lonjakan penumpang ketika penerbangan mengalami gangguan.
“KAI harus berani investasi kereta lebih banyak, lebih cepat,” kata Allan.
Menurut Allan, penambahan lokomotif dan rangkaian kereta akan memberikan fleksibilitas lebih besar bagi operator untuk menyediakan perjalanan tambahan ketika terjadi lonjakan kebutuhan.
“Kalau misalnya waktu itu lokomotifnya lebih banyak kan kereta yang lebih banyak bisa bikin jadwal tambahan lebih banyak,” ujarnya.
Selain penambahan sarana, Allan menilai peningkatan kapasitas juga perlu didukung perbaikan infrastruktur, termasuk sistem persinyalan. Dengan kapasitas jalur dan sistem persinyalan yang lebih baik, frekuensi perjalanan kereta dapat ditingkatkan.
“Sarana ditambahin, sinyalnya diperbaiki sehingga frekuensi lebih banyak,” kata Allan.