Mataram (ANTARA) - Kantor Wilayah Kementerian Agama Nusa Tenggara Barat (Kemenag NTB) mengakui upaya pencegahan pernikahan usia dini yang dilakukan melalui sosialisasi dan bimbingan masih berbenturan dengan pengaruh adat yang sangat kuat.
Kepala Bidang Madrasah Kanwil Kemenag NTB Nasrullah mengatakan mayoritas kasus nikah dini terjadi akibat faktor ekonomi dan keluarga.
"Kami tetap mengutamakan agama daripada adat. Tapi seringkali kadang-kadang kami berbentuk dengan adat, sehingga kami cegah agar jangan sampai menikah, tetapi tetap terjadi," ujar dia saat ditemui usia menghadiri RRI Fest 2026 di MAN 1 Mataram, Kota Mataram, NTB, Rabu.
Kantor Wilayah Kemenag NTB mencatat ada 1.963 kasus pernikahan usia anak terjadi sepanjang tahun 2025. Layanan puskesmas menyebut ada 1.521 kasus melahirkan di bawah umur pada periode tersebut di Nusa Tenggara Barat.
Nasrullah menuturkan program pencegahan pernikahan usia anak telah dilakukan secara rutin melalui kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan Kantor Urusan Agama (KUA) di masing-masing kecamatan.
Program tersebut tidak hanya menyasar siswa madrasah, tetapi juga santri di pondok pesantren dan masyarakat melalui kegiatan sosialisasi dan bimbingan mengenai dampak pernikahan usia anak.
"Nikah muda punya dampak negatif melahirkan anak-anak (keturunan) yang tidak sehat karena belum kuat secara mental dan rahim, lemah harta benda, serta lemah segalanya," kata Nasrullah.
Praktik pernikahan anak atau Merarik Kodek dalam budaya suku Sasak di Pulau Lombok sering dilakukan oleh penduduk setempat. Tradisi itu menimbulkan berbagai dampak negatif mulai dari akses pendidikan yang terputus, risiko kesehatan reproduksi, hingga kemiskinan struktural.
MAN 1 Mataram memberikan bimbingan melalui layanan konseling, penyampaian pesan dalam kegiatan keagamaan, serta pembinaan organisasi kesiswaan agar siswa tidak nikah muda.
Bahkan, setiap Jumat, pihak sekolah rutin menyampaikan ceramah kepada para murid dan lembaga-lembaga organisasi kesiswaan untuk menanamkan semangat agar mereka bisa menggunakan masa muda untuk beraktivitas dan berkreasi setinggi mungkin.
"Konsep Merarik Kodek sangat tidak baik untuk anak-anak SMA karena tantangan ke depan semakin besar," tegas Syauki.
Lebih lanjut dia mengklaim selama memimpin MAN 1 Mataram belum pernah menemukan kasus murid yang melakukan pernikahan usia anak. Apabila kasus tersebut terjadi, imbuh Syauki, pihak sekolah akan melibatkan orang tua dan membentuk tim untuk memberikan pendampingan serta pemahaman mengenai kesiapan anak sebelum menikah.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026