Kapal induk Garibaldi, babak kedua di Laut Indonesia

calendar_today 19.09.2026 - person  - timer ~

Kapal induk Garibaldi, babak kedua di Laut Indonesia

Sabtu, 19 September 2026 13:05 WIB

Image Print

Kolonel Laut (P) Fuad Hasan saat ditemui awak media di depan Kapal Induk Giuseppe Garibaldi ketika bersandar di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9/2026) (ANTARA/Walda Marison)

Jakarta (ANTARA) - Jumat pagi, 18 September 2026, ITS Giuseppe Garibaldi merapat di Dermaga 107 Tanjung Priok. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan para kepala staf angkatan berada di dermaga menyambut kedatangannya. Perjalanan yang dimulai dari Italia pada 24 Agustus itu akhirnya selesai di Jakarta.

Kedatangan kapal sebesar Garibaldi tentu mudah menarik perhatian, apalagi Indonesia belum pernah mengoperasikan kapal induk. Beberapa hari sebelum kapal itu terlihat di Tanjung Priok, pembicaraan mengenai masa depannya sudah bergerak melampaui soal ukuran atau statusnya sebagai kapal induk pertama.

Presiden Prabowo Subianto menjelaskan bahwa Garibaldi akan di-refurbish dan disiapkan untuk mengoperasikan helikopter serta drone. Sekitar 10 helikopter kelas menengah disebut dapat digunakan, antara lain untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan bencana.

Arah itu kemudian dijelaskan lebih rinci oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali. Garibaldi direncanakan menjadi pangkalan terapung helikopter. Helikopter yang beroperasi dari sana tidak hanya milik TNI AL. Helikopter TNI AD dan TNI AU juga direncanakan dapat berada di kapal dan diterbangkan menuju daerah yang membutuhkan, termasuk untuk operasi bom air.

TNI AL juga melihat kapal tersebut sebagai bagian dari kemampuan operasi militer selain perang. Kapasitasnya dapat digunakan untuk membawa personel, logistik, dan peralatan ke wilayah bencana atau daerah yang membutuhkan bantuan. Dengan rancangan seperti itu, Garibaldi tidak sedang dipersiapkan untuk hidup hanya dengan satu fungsi.

Ia tetap menjadi bagian dari kekuatan maritim, tetapi geladak dan ruang yang dimilikinya membuka kemungkinan penggunaan yang lebih luas. Helikopter tiga matra dapat beroperasi dari sana, drone dapat diterbangkan, sementara personel dan logistik dapat dibawa lebih dekat ke daerah operasi.

Gambaran itu tidak baru muncul setelah kapal tiba. Pada 24 hingga 26 Agustus, Pusat Penerbangan TNI AL telah melatih penerbang helikopter TNI AD dan TNI AU dalam ship board operation. Mereka menjalani ground school, berlatih dengan helideck simulator, lalu melakukan praktik lepas landas dan mendarat di geladak KRI Makassar.

Latihan tersebut memberi petunjuk bahwa yang sedang disiapkan bukan sekadar tempat sandar bagi sebuah kapal baru. Sebelum Garibaldi tiba, penerbang sudah berlatih, prosedur mulai dipelajari, dan personel dari matra berbeda mulai membiasakan diri bekerja dalam ruang operasi yang sama.

Kapal dapat berpindah tangan dalam satu seremoni, tetapi kemampuan tidak. Ia lahir dari latihan yang berulang, awak yang memahami peralatannya, dukungan teknis yang tersedia, serta kebiasaan bekerja bersama yang semakin matang. Bagian seperti inilah yang sering tidak segera terlihat ketika perhatian publik lebih tertarik pada bentuk dan ukuran alutsista.

Garibaldi hadir dalam geografi Indonesia yang selalu berhadapan dengan jarak. Pusat logistik tidak selalu dekat dengan wilayah yang membutuhkan, bencana dapat terjadi di daerah dengan akses udara terbatas, dan laut dalam keadaan tertentu justru menjadi jalur yang paling masuk akal untuk mendekatkan sumber daya negara.

Dalam geografi seperti itu, sebuah geladak penerbangan yang dapat berpindah memperoleh arti yang berbeda. Helikopter tidak harus berangkat dari pangkalan yang jauh. Personel dan logistik dapat dibawa lebih dekat ke wilayah sasaran. Kapal yang pada satu waktu mendukung operasi pertahanan, pada kesempatan lain membantu negara hadir dalam misi kemanusiaan.

Pemerintah menyatakan penerimaan Garibaldi dilakukan melalui kajian yang mempertimbangkan kebutuhan operasional TNI, penguatan pertahanan maritim, serta kepentingan pengembangan industri pertahanan nasional. Komisi I DPR juga menyoroti kesiapan doktrin, sumber daya manusia, keberlanjutan anggaran, dan transfer pengetahuan.

Catatan tersebut penting karena modernisasi pertahanan tidak selesai ketika sebuah platform tiba di pelabuhan. Justru setelah itu, pekerjaan yang lebih panjang dimulai: menguasai pengoperasian, membangun prosedur, menyiapkan dukungan teknis, menjaga ketersediaan suku cadang, melatih personel, dan memastikan kapal tetap siap ketika benar-benar dibutuhkan.

Mengoperasikan platform sebesar Garibaldi tetap menuntut pemeliharaan, dukungan teknis, ketersediaan suku cadang, biaya, dan kesiapan awak secara berkelanjutan. Beberapa kemampuan yang direncanakan juga membutuhkan waktu sebelum benar-benar matang.

Terlalu cepat jika menilai keberhasilannya sekarang, meski arah pemanfaatannya sudah terlihat dari latihan penerbang, persiapan operasi lintas matra, serta rencana penggunaan helikopter, drone, OMSP, dan misi kemanusiaan.

Nilai Garibaldi dalam jangka panjang mungkin justru tidak seluruhnya berada pada kapal itu sendiri. Pengalaman mengoperasikannya dapat meninggalkan keterampilan baru bagi awak, pengetahuan bagi organisasi, dan pelajaran bagi industri pertahanan nasional. Kapal mempunyai usia, tetapi pengetahuan yang tumbuh bersamanya tidak harus ikut berakhir.

Kemandirian pertahanan memang berkaitan dengan kemampuan menghasilkan alutsista sendiri. Namun, tidak semua kemandirian harus dimulai dari ruang produksi. Ada pula kemampuan untuk menyerap teknologi yang datang dari luar, memahami batas dan kegunaannya, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan nasional.

Beberapa tahun ke depan akan menunjukkan sejauh mana Garibaldi benar-benar memberi manfaat. Akan ada persoalan teknis, pemeliharaan, biaya, kesiapan personel, dan pekerjaan lain yang tidak terlihat dalam seremoni kedatangannya.

Namun, arah awalnya sudah terlihat bahkan sebelum kapal itu tiba. Penerbang telah berlatih, pola operasi lintas matra mulai disiapkan, sementara tugas pertahanan dan kemanusiaan sudah masuk dalam rancangan pemanfaatannya.

Nilai Garibaldi, karena itu tidak hanya akan ditentukan oleh apa yang dapat dilakukan kapal tersebut, tetapi juga oleh kemampuan yang tumbuh di sekelilingnya: manusia yang lebih terampil, operasi antarmatra yang semakin matang, dan pengetahuan yang semakin dikuasai Indonesia.

Bukan dari mana Garibaldi datang, tetapi apa yang Indonesia mampu membuatnya lakukan. Sebuah platform berhenti sekadar menjadi sesuatu yang dimiliki, ketika kemampuan di sekelilingnya benar-benar dikuasai.

*) Kolonel Inf Muchlis Gasim, SH, MSi, MHI, CHMP adalah Kepala Sub-Dinas Penerangan Khusus Dinas Penerangan Angkatan Darat

Pewarta : Kolonel Inf Muchlis Gasim *) 
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026