Jakarta -
Bagi pasien kanker usus besar (kolon), membayangkan harus menjalani operasi pengangkatan tumor usus besar (kolektomi) tentu menimbulkan rasa takut dan cemas akan luka operasi yang besar dan pemulihan yang lama.
Namun, pada kondisi tertentu, kolektomi dapat dilakukan menggunakan teknologi robotik seperti da Vinci Xi Robotic-Assisted Surgery dengan sayatan yang lebih kecil, proses pembebasan tumor usus yang lebih presisi, dan potensi pemulihan yang lebih cepat.
Menurut dr. Errawan Ramawitana Wiradisuria, Sp.B-KBD, M.Kes dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, operasi robotik bukan berarti tindakan dilakukan secara otomatis oleh robot.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada operasi kanker kolon, tujuan utamanya tetap mengangkat bagian usus yang terkena kanker beserta jaringan dan kelenjar getah bening di sekitarnya, termasuk memperhatikan batas jaringan yang diangkat. Penggunaan teknologi robotik menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu dokter dalam melakukan tindakan secara lebih terkontrol, dan terdapat filtrasi tremor dari operator, tetapi penerapannya tetap disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap pasien," ungkap dr. Errawan dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026).
"Dalam pelaksanaannya, dokter dibantu oleh robot melalui visualisasi kamera 3D memberikan pandangan yang lebih jelas terhadap area operasi, sementara instrumen robotik memungkinkan dokter melakukan gerakan yang stabil dan fleksibel. Kemampuan ini dapat membantu dokter saat bekerja di area yang sempit dan memisahkan jaringan secara hati-hati di sekitar struktur yang perlu dipertahankan, seperti pembuluh darah dan jaringan di sekitar usus," imbuh dr. Errawan.
Bagi pasien, penggunaan teknologi robotik memungkinkan kolektomi dilakukan melalui pendekatan minimal invasif dengan beberapa sayatan kecil. Pendekatan ini dapat membantu mengurangi trauma pada jaringan di sekitar area operasi dan mendukung proses pemulihan setelah tindakan.
Meski demikian, hasil operasi tetap dipengaruhi oleh karakteristik (stadium) kanker, kondisi pasien, serta kompleksitas tindakan yang dilakukan. Namun, penggunaan teknologi robotik pada kolektomi perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap pasien.
"Dokter akan mempertimbangkan karakteristik, lokasi dan ukuran tumor, stadium kanker, kondisi pasien, serta kompleksitas. Pada kanker yang sudah berkembang luas atau melibatkan organ di sekitarnya, operasi terbuka dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai," jelas dr. Errawan.
Perkembangan teknologi bedah memungkinkan semakin banyak tindakan kompleks dilakukan secara minimal invasif, termasuk prosedur kolektomi. Deteksi dan diagnosis yang akurat membantu dokter menentukan penanganan yang tepat sesuai kondisi.
Di Gastrohepatology Center Mayapada Hospital menyediakan layanan komprehensif untuk menangani berbagai gangguan saluran pencernaan, dengan dukungan tim multidisiplin mulai dari deteksi dini dan diagnosis hingga penanganan.
Penanganan lanjut dengan teknologi da Vinci Xi Robotic-Assisted Surgery juga dapat dilakukan di Mayapada Hospital Jakarta Selatan untuk mendukung tindakan bedah secara lebih presisi dan terarah sesuai kebutuhan pasien. Teknologi robotik tersebut juga akan melengkapi layanan Oncology Center Mayapada Hospital Jakarta Selatan, khususnya dalam mendukung tindakan bedah pada berbagai kasus kanker, bersama tim dokter multidisiplin.
Konsultasi mengenai penanganan kanker sesuai kondisi pasien dapat dilakukan dengan menjadwalkan konsultasi bersama dokter di Mayapada Hospital melalui Call Center 150770 dan WhatsApp 0817-17-150770. Bila terjadi kondis gawat darurat medis Anda dapat menghubungi Emergency Call 150990, atau emergency call button di aplikasi MyCare.
Aplikasi ini juga menyediakan fitur Personal Health untuk membantu memantau kebugaran, seperti detak jantung, jumlah langkah, kalori yang terbakar, dan Body Mass Index (BMI).
(prf/ega)