Jakarta -
Staycation menjadi tren liburan yang digemari oleh banyak orang. Meski sedang liburan, nuansa hotel harus terus dibuat agar sunyi?
Hotel sejatinya dirancang menjadi tempat menginap dan beristirahat saat berada dalam perjalanan. Tak banyak yang tahu bahwa hotel memiliki aturan 'quite time' yang wajib diketahui oleh tamu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir dari situs Hotel 500 Zegrze Polandia, kebanyakan hotel memiliki quite time pukul 22.00-06.00 waktu setempat. Kerangka waktu ini didasarkan pada norma sosial yang diterima secara umum dan peraturan fasilitas akomodasi. Selama waktu ini, tamu harus membatasi kebisingan di kamar, koridor, dan area umum.
Waktu tenang ini bukan berarti keheningan total, tapi meminta tamu untuk menahan diri dari perilaku yang dapat mengganggu istirahat orang lain. Tamu diminta untuk berbicara lebih pelan dan tidak berisik saat melewati lorong.
Pakar etiket Inggris terkemuka, William Hanson, yang memimpin Institut Tata Krama Inggris di London mengatakan pada BBC bahwa lorong koridor hotel diibaratkan sebagai katedral.
Tamu tidak hanya tidur di hotel pada malam hari. Mereka mungkin juga tidur di siang hari karena mereka telah bekerja semalaman.
"Sungguh menakjubkan berapa kali saya berada di kamar bersiap-siap dan ada seorang anak berlarian di lorong mengejar anak lain," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa koridor hotel harus selalu tenang, karena kita tidak tahu apa yang terjadi di balik pintu.
"Fungsi utama hotel, selain untuk beristirahat dan bersenang-senang, adalah untuk tidur," jelasnya.
Jika mendapati informasi tentang keributan, staff hotel biasanya akan datang dan mengingatkan tamu dengan sopan. Dalam sebagian besar kasus, ini cukup untuk memulihkan ketenangan.
Namun, jika kebisingan berulang atau jelas melebihi batas, hotel akan menggunakan solusi yang tercantum dalam peraturan. Ini mungkin berarti respons yang lebih tegas, melibatkan keamanan, dan dalam kasus luar biasa, memanggil pihak berwenang yang sesuai atau pengusiran dari hotel.
(bnl/ddn)