Barang bukti paling mencolok adalah cartridge. Sebanyak 23 kemasan merek Gucci berisi cartridge, 10 kemasan Very Good, serta 141 cartridge berada di dalam tray. Ditambah satu cartridge warna hitam dan satu warna hijau.
“Barang bukti yang diamankan antara lain 23 buah Gucci, 10 buah kemasan merek Very Good dan 141 buah cartridge diduga etomidate yang berada di dalam tray,” jelas Eko.
Jika seluruhnya dihitung, terdapat 176 cartridge yang diduga berisi etomidate. Polisi juga menemukan jerigen dan enam botol berisi Propylene Glycol (PG).
Sejumlah alat produksi turut disita, mulai dari alat pres atau penyegel, power supply, magnetic stirrer, hotplate atau heater, empat spuit, tray, cartridge kosong, botol liquid vape hingga kemasan cetak merek Gucci dan Very Good.
Dari pemeriksaan terhadap Fajar, pihaknya kemudian mengungkap dugaan jaringan yang merekrutnya.
Eko menyebut Fajar sebelumnya dihubungi Raden Fatwan Seftiono alias Jibon melalui Facebook Messenger pada Selasa, 4 Agustus 2026. Percakapan kemudian berlanjut melalui WhatsApp.
Jibon menawarkan pekerjaan meracik dan mengisi cairan etomidate ke dalam cartridge. Imbalannya cukup besar, yakni Rp 30 juta per minggu, ditambah uang makan Rp 2 juta per hari.
“Jibon menawarkan pekerjaan meracik dan mengisikan cairan Etomidate ke dalam cartridge dengan janji upah Rp 30 juta per minggu plus uang makan Rp 2 juta per hari,” ungkap Eko.
Fajar menerima tawaran tersebut. Dia kemudian mengajak istrinya, Fauziah, menuju NP Residence sesuai arahan Jibon. Di kamar kos, Fajar bertemu seseorang bernama Exel sebagai perantara untuk mengambil kunci kamar.
Selanjutnya Fajar dihubungi kontak berinisial X-Man melalui WhatsApp. Dia diperintahkan mengambil paket bahan baku yang dikirim menggunakan jasa kurir instan ke lobi kos.
Namun, menurut hasil pemeriksaan yang disampaikan Eko, paket tersebut juga berisi sabu sekitar 0,5 gram. Sabu itu kemudian dikonsumsi Fajar bersama Fauziah.
Proses pembuatan vape diduga etomidate juga dibongkar. Eko mengatakan seseorang yang mengaku bernama Koko Cong, dengan nama kontak Kohkohku, melakukan video call dengan kamera dimatikan.
Koko Cong memandu Fajar. Percobaan pertama gagal karena campuran terlalu panas hingga mendidih. Racikan kemudian diulangi sampai serbuk larut sempurna.
“Percobaan pertama sempat gagal karena terlalu panas atau mendidih. Kemudian diulangi pada percobaan kedua hingga serbuk larut sempurna,” kata Eko.
Setelah cairan dingin, liquid dimasukkan ke dalam cartridge menggunakan botol runcing. Cartridge kemudian dikemas.