Sawah tidak lagi sekadar tempat menghasilkan gabah, melainkan menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan energi, air, pangan, peternakan, perempuan, hingga usaha pengolahan
Cilacap (ANTARA) - Pada hamparan sawah di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, energi matahari tidak sekadar jatuh sebagai cahaya, tapi diubah menjadi tenaga untuk mengalirkan air, menghidupkan lahan, dan perlahan menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Di tempat itu, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Margo Sugih bersama Kelompok Ternak Mintih Mulia serta Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Jaya Lestari dan KWT Tandur Makmur menjalankan program Kalijaran Mapan atau Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan.
Program unggulan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap itu tidak berhenti pada penyediaan sarana produksi pertanian. Pendekatannya dibangun dari hulu hingga hilir, mulai dari energi, air, budidaya, peternakan, pengolahan hasil panen, hingga pemasaran.
Pengembangan tersebut bermula dari sebuah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 1.050 Wp yang digunakan untuk mendukung pengairan lahan.
Seiring pendampingan dan pengembangan program sejak 2023, kapasitas energi terpasang meningkat menjadi 22.850 Wp yang digunakan untuk mengoperasikan sejumlah pompa irigasi. Luas lahan yang mendapatkan manfaat pengairan pun berkembang dari sekitar dua hektare menjadi 15 hektare.
"Kalau dulu kita hanya punya satu PLTS, sekarang sudah berkembang menjadi delapan PLTS. Satu PLTS untuk satu pompa," kata Priyatno, Ketua Gapoktan Margo Sugih.
Energi terbarukan tersebut menjadi pintu masuk bagi perubahan yang lebih luas. Air yang dipompa untuk mengairi sawah tidak hanya menopang tanaman padi, juga mendukung hortikultura dan peternakan.
Kalijaran Mapan dilengkapi embung yang menampung kelebihan air sekaligus dimanfaatkan untuk budidaya ikan. Di sekitar lahan terdapat pula kandang bebek komunal, demplot pertanian, rumah pembibitan, greenhouse hidroponik, bedeng hortikultura, serta saung edukasi.
Kotoran bebek dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik, sementara tanaman seperti azolla, lemna, dan eceng gondok turut digunakan sebagai bahan tambahan pakan.
Bagi Priyatno, pola tersebut membuat pertanian tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Padi menghasilkan beras dan hasil samping yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, peternakan menghasilkan telur dan pupuk, sedangkan hortikultura membuka pilihan komoditas sekaligus sumber pendapatan.
Kelompok itu ingin pertanian yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Jadi bukan hanya menanam, tetapi bagaimana hasilnya bisa diolah dan mempunyai nilai tambah.
Dari diejek menjadi dicari
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.