Kadin Indonesia Perbarui Kemitraan dengan Senegal Demi Perkuat Investasi |Republika Online

calendar_today 16.10.2026 - person  - timer ~

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN, – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia resmi menandatangani perjanjian kemitraan (partnership agreement) dengan Persatuan Nasional Kamar Dagang, Industri, dan Pertanian Senegal (UNCCIAS). Kesepakatan yang diteken di Menara Kadin, Jakarta, Jumat sore ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama investasi dan memberikan perlindungan bagi pelaku usaha Indonesia di kawasan Afrika Barat.

Ketua Komite Tetap Wilayah Afrika Kadin Indonesia, Mintardjo Halim, menjelaskan bahwa perjanjian ini merupakan pembaruan dan penguatan dari kesepakatan yang sudah ada sebelumnya. Ia menegaskan, sektor-sektor yang ditingkatkan dalam perjanjian baru ini mencakup investasi, perdagangan, pengiriman barang (shipping), hingga perbankan.

“Jadi, kalau kami (pelaku usaha Indonesia) invest (berinvestasi) di sana, kami dilindungi,” ujar Mintardjo Halim saat ditemui usai menghadiri “Pertemuan Bisnis dan B-to-B Networking Indonesia-Afrika Barat” di Tangerang Selatan, Banten, Jumat siang.

Lebih lanjut, Mintardjo menekankan bahwa kehadiran UNCCIAS sebagai mitra lokal akan menjadi garda terdepan dalam membantu pengusaha Indonesia. “Jadi kalau ada apa-apa, ada masalah, kami bisa kontak sama minta tolong Kadin di sana (UNCCIAS) untuk membantu menangani masalah-masalah yang ada,” lanjutnya.

Peluang Kolaborasi dan Hambatan Dagang

Mintardjo menyoroti besarnya peluang kolaborasi antara Indonesia dan negara-negara Afrika Barat di berbagai bidang, seperti pertanian, pengolahan makanan, manufaktur, barang kebutuhan konsumen (consumer goods), dan logistik. Namun, ia menyayangkan masih minimnya perjanjian dagang bilateral antara Indonesia dengan negara-negara di kawasan tersebut.

Menurutnya, tanpa adanya kesepakatan dagang, produk-produk asal Afrika dapat kehilangan daya saing akibat tingginya bea masuk dan adanya pembatasan perdagangan. Ia pun mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan pembentukan perjanjian dagang, baik berupa Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) maupun Perjanjian Perdagangan Preferensial (Preferential Trade Agreement/PTA).

“Indonesia dan Afrika Barat perlu membicarakan mengenai perjanjian perdagangan preferensial, baik PTA maupun FTA, demi menurunkan tarif dan hambatan perdagangan agar perekonomian kita dapat tumbuh bersama. Jika tidak, perdagangan antara kedua pihak tidak akan berkembang secara optimal,” ucap Mintardjo.

Potensi Industrialisasi di Senegal

Di tempat yang sama, Koordinator Fungsi Ekonomi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dakar, Alex Rudini Sulaiman, mengajak para pelaku usaha Indonesia untuk menjajaki investasi di bidang industrialisasi di negara-negara Afrika Barat, khususnya Senegal. “Banyak potensi yang bisa dilakukan di sana, khususnya untuk masalah industrialisasi, bagaimana memproduksi secara lokal di Senegal sehingga bisa membantu menurunkan biaya produksi,” kata Alex.

Ia mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan Indonesia telah menunjukkan minat serius untuk menanamkan modal di Senegal. Salah satunya adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk yang kini tengah melakukan studi kelayakan (feasibility study). Selain itu, PT Bakrie & Brothers Tbk telah lebih dulu berinvestasi di sektor perkebunan sawit di Guinea dan berencana memperluas kerja sama ke sektor pertambangan.

“Jadi, kami berharap bahwa kegiatan ini adalah langkah awal yang nantinya akan membuka pintu kerja sama yang lebih luas lagi (antara Indonesia) dengan Afrika,” tutup Alex.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara