Redaksi Akurat
| 10 September 2026, 12:53 WIB

Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan UNESA, Dini Nastiti Wardani, S.Ikom., M.Ikom.
KETIKA asap kebakaran hutan dan lahan menyelimuti permukiman, yang hilang bukan hanya jarak pandang, tetapi juga kemampuan masyarakat memperoleh informasi yang benar.
Sekolah mungkin ditutup, anak-anak belajar dari rumah, orang tua mencari informasi kualitas udara, guru mencari cara melanjutkan pembelajaran, sementara pemerintah menyampaikan berbagai imbauan.
Dalam situasi tersebut, media memiliki tugas penting: memastikan masyarakat mengetahui apa yang terjadi, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana melindungi diri. Di sinilah jurnalisme bencana menjadi penting.
Di tengah dominasi media sosial, streaming, portal berita, dan kecerdasan buatan, radio mungkin terlihat sebagai medium lama. Namun dalam situasi bencana, karakter radio justru menjadi kekuatan.
Radio bukan sekadar alat menyampaikan berita, tetapi dapat menjadi infrastruktur informasi, ruang pendidikan publik, sekaligus teknologi pendidikan yang tangguh.
Bencana selalu meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap informasi.
Mereka ingin mengetahui wilayah terdampak, sekolah yang ditutup, kualitas udara, lokasi pengungsian, kondisi layanan publik, serta langkah perlindungan bagi anak-anak.
Persoalannya, kebutuhan informasi meningkat ketika infrastruktur komunikasi justru dapat terganggu. Internet bisa lambat, listrik padam, dan jaringan seluler mengalami gangguan.
Media sosial tetap ramai, tetapi kebenaran informasi yang beredar belum tentu dapat dipastikan.
Karena itu, persoalan dalam bencana bukan hanya kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi tanpa verifikasi.
Jurnalisme bencana tidak cukup hanya memberitakan luas lahan yang terbakar atau menampilkan kepulan asap.
Media harus mengubah informasi teknis menjadi pengetahuan yang dapat digunakan masyarakat.
Berapa jarak aman dari asap? Apa arti indeks kualitas udara? Apakah anak-anak boleh beraktivitas di luar? Kapan sekolah perlu diliburkan? Apa yang harus dilakukan orang tua? Bagaimana membedakan informasi resmi dengan kabar yang belum terverifikasi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada dasarnya merupakan pertanyaan pendidikan. Jurnalisme bencana dan pendidikan memiliki titik temu: keduanya membantu masyarakat mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan.
Baca Juga: Teknologi Keselamatan Jadi Andalan Industri Hadapi Risiko Kebakaran dan Asap