Liputan6.com, Jakarta - Kekayaan miliarder dunia mencapai rekor US$ 15,1 triliun pada 2025. Lonjakan tersebut terjadi ketika booming kecerdasan buatan (AI) mendorong penciptaan kekayaan di berbagai negara.
Berdasarkan laporan terbaru Altrata, dikutip dari CNBC, Senin (7/9/2026), jumlah miliarder dunia mencapai rekor 3.795 orang pada 2025. Angka tersebut meningkat 8,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi kenaikan tahunan terbesar dalam lima tahun terakhir.
Tidak hanya jumlahnya yang bertambah, total kekayaan para miliarder juga melonjak 12,8 persen menjadi US$ 15,1 triliun.
Altrata mengidentifikasi 150 perusahaan terbuka yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kekayaan para miliarder. Perusahaan yang menginvestasikan sedikitnya US$ 30 juta untuk AI dalam lima tahun terakhir mencatat pertumbuhan kapitalisasi pasar 23 persen lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak melakukan investasi serupa pada periode 2024-2025.
Menurut Kepala Thought Leadership and Analytics Altrata Maya Imberg, euforia AI di Wall Street turut memperlebar kesenjangan kekayaan di kalangan miliarder.
Laporan tersebut mencatat ada 29 “supermiliarder”, yakni individu dengan kekayaan lebih dari US$ 50 miliar. Total kekayaan kelompok ini mencapai US$ 4,1 triliun atau 27 persen dari seluruh kekayaan miliarder dunia.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3512417/original/039985100_1626406790-wall_street__2_16_juli_robb-miller-oEGDKf4ZtNg-unsplash.jpg)
Perbesar
Jumlah supermiliarder meningkat tajam dibandingkan 2017. Saat itu, Altrata memperkirakan hanya terdapat 10 orang dengan kekayaan lebih dari US$ 50 miliar, yang secara keseluruhan menguasai 7,2 persen kekayaan seluruh miliarder.
Meski kenaikan saham teknologi menciptakan kekayaan dalam jumlah fantastis, kekayaan yang bergantung pada saham perusahaan yang terpapar AI juga memiliki risiko volatilitas tinggi.
“Kami memperkirakan kekayaan banyak miliarder terkaya, yang perusahaannya berfokus pada teknologi, akan naik dan turun sebagai respons terhadap perkembangan AI,” kata Imberg melalui email.
Pasar saham memang mengalami pergerakan tajam sepanjang tahun ini. Pada Juli, aksi jual saham-saham chip utama bahkan menghapus sekitar US$ 1,3 triliun kapitalisasi pasar.
Bagi kelompok orang terkaya di dunia, pergerakan tersebut dapat menyebabkan perubahan kekayaan di atas kertas dalam jumlah sangat besar dalam waktu singkat. Forbes mencatat Elon Musk pernah mengalami penurunan kekayaan US$ 18 miliar dalam sehari, sementara kekayaan Larry Ellison anjlok US$ 50 miliar dalam sepekan.
“Konsentrasi pasar tidak serta-merta berarti bahwa ini adalah gelembung. Namun, tentu ada risiko ketika eksposur terkonsentrasi pada satu sektor utama (teknologi), dan di dalam sektor tersebut pada AI,” kata Imberg.
Amerika Utara masih menjadi kawasan dengan jumlah miliarder terbanyak di dunia. Altrata mencatat terdapat 1.337 miliarder di kawasan tersebut pada 2025, naik 11,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menjadi yang tercepat dibandingkan kawasan lain. Imberg menilai dominasi Amerika Serikat di pasar teknologi, baik perusahaan privat maupun terbuka, turut mendorong kenaikan jumlah miliarder di Amerika Utara.
Eropa berada di posisi berikutnya dengan 1.081 miliarder setelah jumlahnya meningkat 7,9 persen pada 2025. Sementara itu, jumlah miliarder di Asia mencapai 881 orang, naik 6,5 persen.
Meski booming AI menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan kekayaan miliarder, Altrata menyebut 2025 juga merupakan tahun yang sangat menguntungkan dari berbagai sisi.
Seluruh kelas aset utama yang dipantau Altrata mencatat imbal hasil positif pada 2025. Kondisi tersebut menjadi yang pertama sejak pandemi.
Kinerja positif itu terjadi meski pasar global menghadapi berbagai gejolak, termasuk perang dagang yang dilancarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dengan demikian, lonjakan kekayaan miliarder pada 2025 tidak hanya mencerminkan euforia terhadap AI, tetapi juga kenaikan nilai berbagai aset secara lebih luas.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6